Masuk Daftar

Pengetahuan Itu Harus Dibagikan

Berita Warga
Selasa, (21/2/2023) Septi, perempuan berbusana muslim serba hitam dari Yayasan Penyandang Disabilitas (YPD) dan Nan, berbaju batik merah dengan kerudung pink, mewakili komunitas Laskar Cinta Kasih, hadir di kantor Metamorfosis, mewakili Forum Bogor Damai Sejahtera (Forbodas) bersa-sama 11 orang, termasuk Ibu Anye Ardyane Putri, perwakilan dari Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Jawa Barat, serta Bapak Joko dan Pak Rahman dari USAID-Madani.

Selepas kegiatan, kami mengajak Septi dan Nan ngobrol santai untuk mendiskusikan apa yang sudah dilakukan dengan organisasinya. Septi, lebih dulu bercerita, Ia bersukur bisa mendapatkan banyak pengetahuan dari Metamorfosis. Sebagai perempuan ibu rumah tangga, Septi kini jauh lebih percaya diri, jika menggunakan skala 0-10, pengetahuannya di angka 0, kini Ia merasa sudah di angka 5. Septi tak lantas merasa puas. Dia bilang masih harus terus belajar.

Septi dan Nan adalah peserta pelatihan di kegiatan Metamorfosis. Hasil belajar, tak lupa dibagikan kepada rekannya di sesama organisasi. Septi awalnya merasa malu dan takut, tetapi Ketua YPD mendukung dan membuka jalan bagi Septi untuk terus belajar dan aktif dalam kegiatan. Dari sini Septi mulai berani menjadi pembicara di hadapan rekan-rekannya.

Upaya Septi menyebarkan pengetahuannya tidak berhenti sampai di situ, Ia juga mengelola jadwal kelas anak-anak disabilitas, termasuk mengatur sumber pendanaan kegiatan. “Ada jadwal berkesenian, baca tulis hitung dan mengaji,” katanya bangga. Juga mengajak orang tua, anak disabilitas, untuk bergabung dengan kelas non formal. Septi mengajak orang tua mengisi kotak donasi seikhlasnya, hal ini menjadi salah satu cara untuk mengatasi kekurangan biaya. Septi memasukkan anaknya yang bisu dan tuli ke sekolah inklusi, agar memenuhi hak anaknya untuk mendapatkan pendidikan umum.

Lain halnya dengan Nan Sumiroy, Ketua Komunitas Laskar Cinta Kasih (LCK) juga anggota Forbodas yang aktif. LCK awalnya fokus pada kegiatan donasi kemanusiaan, kini mulai mengambil peran sebagai agen perdamaian. Nan mulai menceritakan peristiwa tak menyenangkan di hari ulang tahunnya, hanya karena Ia memasang di status Whatsapp-nya memakai baju warna warni, alhasil reaksi negatif datang dari sebagian besar kontak di smartphone-nya, kebanyakan mengecam Nan lantaran warna bajunya simbol LGBT. Nan klarifikasi warna yang Ia pakai, bukan simbol kelompok atau golongan tertentu, tetapi menggambarkan perasaan bahagianya di hari itu.

Hal yang sama terjadi ketika tetangganya menolak baju batik pemberiannya, karena dianggap kurang islami dan “baju batik dianggap baju orang kristen, karena biasa dipakai ke gereja”. Nan sontak meluruskan pernyataan tersebut, bahwa baju batik adalah khas Indonesia, bukan simbol agama tertentu. Nan menyayangkan betapa warga di lingkungannya masih banyak prasangka negatif terhadap mereka yang bukan kelompoknya. Seperti inilah cara Nan Sumiroy membagikan materi kegiatan yang diikutinya.

Septi dan Nan punya tantangan berbeda. Tapi keduanya tak menyerah untuk terus mengedukasi warga tentang pentingnya pengetahuan, berjejaring, dan bergaul dengan organisasi yang berbeda. Sebab dengan itulah Septi dan Nan menjadi lebih berpikiran terbuka, percaya diri, berdaya, demi membangun kesadaran bersama.

Tagar Populer

Berita Warga Terkait

Berita Warga Terpopuler

Berita Warga Terbaru

Jelajahi Informasi Lebih Dalam

Berita Warga

Kabar berita terkini dari warga

Loker

Informasi lapangan pekerjaan

Acara

Undangan acara untuk warga

Laporan Warga

Masalah yang terjadi di lingkungan

Komunitas

Ruang komunitas AtmaGo

Lihat kabar pilihan, khusus dirangkum untukmu!

Masuk Daftar