Palu Pulih : Memahami Bencana Bersahabat dengan Alam
Berita Warga

Ibarat seorang anak kecil yang sedang belajar berlari, mencoba hal-hal baru di sekitarnya, jatuh bangun belajar mengendarai sepeda, tidak luput dari luka dan terbentur. Sakit? Sudah tentu. Luka di memar di sekujur tubuh juga bisa terjadi. Namun, apakah menjadi seorang anak tersebut lantas membuatnya urung berlari enggan belajar mencoba hal baru yang disukainya ?
Bila takut, seorang anak tidak akan dapat merasakan senangnya bisa berlari kencang.
Bila tidak berani mencoba, seorang anak tidak akan berhasil mempelajari hal-hal baru yang diminatinya. Tidak akan ada seorang ilmuwan tanpa eksperimen, pun begitu juga tidak akan ada yang dapat mengarungi laut luas untuk mencari tepi laut bila seorang nahkoda tidak mencoba belajar menahkodai sebuah kapal.
Palu bangkit mungkin akan sering menangis dengan begitu banyak cobaan dan ujian bencana yang tidak henti-hentinya menerpa. Masih terekam dalam ingatan, bagaimana peristiwa dahsyat 28 September 2018 meluluhlantakkan seluruh kota Palu dan sekitarnya. Peristiwa besar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ribuan orang kehilangan sanak saudaranya, ribuan orang kehilangan harta bendanya, ribuan orang terbujur kaku tanpa tahu dimana kuburnya. Sama halnya seperti ketika belajar naik sepeda, jatuh lalu sakit namun bangkit berdiri melanjutkan kembali mengayuh agar jarak yang ditempuh dapat tercapai sampai di tujuan. Di balik bencana banyak pelajaran yang bisa membuat masyarakat Palu 'naik kelas'. Begitu banyak hal yang bisa membuat Palu bangkit dan pulih. Begitu banyak yang datang membantu Palu untuk bisa bangkit dan pulih kembali. Begitu banyak jalinan silaturahim yang kemudian tersambung secara tidak terduga. Tanpa disangka, semua orang datang membantu tanpa saling kenal, bahu membahu menolong saudaranya untuk bangkit dari keterpurukan.
Bangkit lagi untuk bisa menata kembali kehidupan yang baru memang tidak semudah membalikkan telapak kanan. Ia tidak terjadi begitu saja. Butuh kerjasama, kolaborasi dan dukungan penuh warga dan pemerintah. Betapa tidak, luka dalam akibat bencana akan menjadi bekas yang tertinggal. Tidak mungkin akan dilupakan. Namun, bukanlah tidak mungkin untuk bersahabat dengan luka tersebut. Bersahabat dengan bencana, ingatlah hari itu untuk dikenang, ingatlah saat indah terakhir bersama orang-orang terkasih yang sudah dilewati sebelum bencana. Ingatlah mereka dalam setiap doa dan harapan. Harapan baru bagi yang tersisa untuk bangkit menata Palu yang lebih baik. Palu baru dengan kesadaran baru yang tumbuh, bahwa kita bangkit dan siap bersahabat dengan bencana ini. Harapan baru yang melahirkan langkah-langkah konkret, agar kelak generasi di kota Palu menjadi generasi yang mencintai lingkungan. Semoga setelah ini warga mulai menyadari dan paham akan tanda-tanda alam terjadinya bencana gempa dan tsunami. Dengan adanya bencana warga lebih sadar dan mencintai lingkungan.
#PaluPulih
Bila takut, seorang anak tidak akan dapat merasakan senangnya bisa berlari kencang.
Bila tidak berani mencoba, seorang anak tidak akan berhasil mempelajari hal-hal baru yang diminatinya. Tidak akan ada seorang ilmuwan tanpa eksperimen, pun begitu juga tidak akan ada yang dapat mengarungi laut luas untuk mencari tepi laut bila seorang nahkoda tidak mencoba belajar menahkodai sebuah kapal.
Palu bangkit mungkin akan sering menangis dengan begitu banyak cobaan dan ujian bencana yang tidak henti-hentinya menerpa. Masih terekam dalam ingatan, bagaimana peristiwa dahsyat 28 September 2018 meluluhlantakkan seluruh kota Palu dan sekitarnya. Peristiwa besar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ribuan orang kehilangan sanak saudaranya, ribuan orang kehilangan harta bendanya, ribuan orang terbujur kaku tanpa tahu dimana kuburnya. Sama halnya seperti ketika belajar naik sepeda, jatuh lalu sakit namun bangkit berdiri melanjutkan kembali mengayuh agar jarak yang ditempuh dapat tercapai sampai di tujuan. Di balik bencana banyak pelajaran yang bisa membuat masyarakat Palu 'naik kelas'. Begitu banyak hal yang bisa membuat Palu bangkit dan pulih. Begitu banyak yang datang membantu Palu untuk bisa bangkit dan pulih kembali. Begitu banyak jalinan silaturahim yang kemudian tersambung secara tidak terduga. Tanpa disangka, semua orang datang membantu tanpa saling kenal, bahu membahu menolong saudaranya untuk bangkit dari keterpurukan.
Bangkit lagi untuk bisa menata kembali kehidupan yang baru memang tidak semudah membalikkan telapak kanan. Ia tidak terjadi begitu saja. Butuh kerjasama, kolaborasi dan dukungan penuh warga dan pemerintah. Betapa tidak, luka dalam akibat bencana akan menjadi bekas yang tertinggal. Tidak mungkin akan dilupakan. Namun, bukanlah tidak mungkin untuk bersahabat dengan luka tersebut. Bersahabat dengan bencana, ingatlah hari itu untuk dikenang, ingatlah saat indah terakhir bersama orang-orang terkasih yang sudah dilewati sebelum bencana. Ingatlah mereka dalam setiap doa dan harapan. Harapan baru bagi yang tersisa untuk bangkit menata Palu yang lebih baik. Palu baru dengan kesadaran baru yang tumbuh, bahwa kita bangkit dan siap bersahabat dengan bencana ini. Harapan baru yang melahirkan langkah-langkah konkret, agar kelak generasi di kota Palu menjadi generasi yang mencintai lingkungan. Semoga setelah ini warga mulai menyadari dan paham akan tanda-tanda alam terjadinya bencana gempa dan tsunami. Dengan adanya bencana warga lebih sadar dan mencintai lingkungan.
#PaluPulih