OPINI: Mental Pengemis saat Lebaran
Citizen News

Lebaran adalah momen yang penuh kebahagiaan, di mana umat Islam saling bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Namun, ada fenomena yang sering terjadi, yaitu anak-anak yang meminta Tunjangan Hari Raya (THR) saat bersilaturahmi. Fenomena ini perlu dikritisi karena bisa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan karakter anak.
1. Anak-anak Meminta THR karena Pembiaran atau Ajaran Orang Tua
Kebiasaan anak-anak meminta THR tidak muncul begitu saja, tetapi biasanya karena ada pembiaran atau bahkan ajaran dari orang tua. Beberapa orang tua menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan mendorong anak-anak mereka untuk berkeliling mencari THR. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membentuk mentalitas konsumtif dan ketergantungan pada pemberian orang lain, alih-alih membangun kemandirian dan kerja keras.
2. Rumah Mewah Dikunjungi, Rumah Sederhana Ditinggalkan
Tidak jarang, anak-anak yang meminta THR lebih memilih mengunjungi rumah-rumah yang dianggap mewah atau milik orang kaya karena peluang mendapatkan uang lebih besar. Sebaliknya, rumah-rumah yang sederhana atau milik orang yang kurang mampu cenderung dilewati. Hal ini mencerminkan perilaku yang kurang menghargai nilai silaturahmi dan lebih mengutamakan keuntungan materi semata.
3. Fokus Mendapatkan Banyak THR, Melupakan Nilai Silaturahmi
Silaturahmi saat Lebaran seharusnya menjadi ajang mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. Namun, ketika anak-anak (dan bahkan sebagian orang dewasa) lebih fokus pada mengumpulkan THR, nilai luhur dari silaturahmi menjadi terabaikan. Alih-alih membangun kehangatan dan saling mendoakan, Lebaran justru menjadi ajang perburuan uang.
4. Sikap Orang Tua yang Benar Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah menekankan pentingnya pendidikan karakter yang baik bagi anak-anak. Orang tua sebaiknya mengajarkan bahwa rezeki diperoleh dengan usaha, bukan dengan meminta-minta. Jika ada pemberian dari keluarga sebagai bentuk kasih sayang, itu sebaiknya diterima dengan syukur, bukan sebagai hak yang harus dituntut.
Orang tua juga perlu mengajarkan anak-anak bahwa silaturahmi bukan tentang uang, melainkan tentang memperkuat ukhuwah Islamiyah. Selain itu, memberi sedekah seharusnya didasarkan pada keikhlasan dan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan sekadar memenuhi ekspektasi anak-anak yang datang hanya untuk meminta THR.
5. Budaya Jawa
Dalam budaya Jawa, menolak pemberian orang lain saat pertama kali ditawari merupakan bentuk unggah-ungguh atau sopan santun. Sikap ini dikenal dengan istilah ewuh pekewuh, yang mencerminkan rasa hormat dan tidak ingin merepotkan orang lain. Misalnya, ketika seseorang diberi oleh-oleh atau uang oleh tuan rumah, sering kali ia akan menolak secara halus meskipun akhirnya menerima dengan penuh rasa syukur jika terus didorong. Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya Jawa, menerima pemberian bukanlah hak yang harus dituntut, melainkan sebuah anugerah yang harus disikapi dengan rendah hati.
Kesimpulan
Sebagai masyarakat yang masih memegang nilai budaya dan agama, ada baiknya kita mulai mengingatkan kembali anak-anak tentang makna silaturahmi yang sesungguhnya. Orang tua perlu menanamkan nilai kesopanan, bahwa ketika bertamu, tujuan utama adalah menjaga hubungan baik, bukan mengharap pemberian. Jika pun mendapatkan hadiah atau THR, anak-anak harus diajarkan untuk menerima dengan penuh rasa syukur dan tanpa sikap menuntut. Dengan begitu, kita bisa menjaga budaya luhur yang mengajarkan rasa hormat dan tahu diri dalam setiap interaksi sosial.
Meminta-minta saat Lebaran bukanlah kebiasaan yang baik jika dilakukan tanpa kontrol. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir anak agar lebih menghargai nilai silaturahmi daripada sekadar mengejar THR. Dengan pendidikan yang benar, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki etika sosial yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
- Rohmad Avi Hidayat
1. Anak-anak Meminta THR karena Pembiaran atau Ajaran Orang Tua
Kebiasaan anak-anak meminta THR tidak muncul begitu saja, tetapi biasanya karena ada pembiaran atau bahkan ajaran dari orang tua. Beberapa orang tua menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan mendorong anak-anak mereka untuk berkeliling mencari THR. Padahal, jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membentuk mentalitas konsumtif dan ketergantungan pada pemberian orang lain, alih-alih membangun kemandirian dan kerja keras.
2. Rumah Mewah Dikunjungi, Rumah Sederhana Ditinggalkan
Tidak jarang, anak-anak yang meminta THR lebih memilih mengunjungi rumah-rumah yang dianggap mewah atau milik orang kaya karena peluang mendapatkan uang lebih besar. Sebaliknya, rumah-rumah yang sederhana atau milik orang yang kurang mampu cenderung dilewati. Hal ini mencerminkan perilaku yang kurang menghargai nilai silaturahmi dan lebih mengutamakan keuntungan materi semata.
3. Fokus Mendapatkan Banyak THR, Melupakan Nilai Silaturahmi
Silaturahmi saat Lebaran seharusnya menjadi ajang mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. Namun, ketika anak-anak (dan bahkan sebagian orang dewasa) lebih fokus pada mengumpulkan THR, nilai luhur dari silaturahmi menjadi terabaikan. Alih-alih membangun kehangatan dan saling mendoakan, Lebaran justru menjadi ajang perburuan uang.
4. Sikap Orang Tua yang Benar Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah menekankan pentingnya pendidikan karakter yang baik bagi anak-anak. Orang tua sebaiknya mengajarkan bahwa rezeki diperoleh dengan usaha, bukan dengan meminta-minta. Jika ada pemberian dari keluarga sebagai bentuk kasih sayang, itu sebaiknya diterima dengan syukur, bukan sebagai hak yang harus dituntut.
Orang tua juga perlu mengajarkan anak-anak bahwa silaturahmi bukan tentang uang, melainkan tentang memperkuat ukhuwah Islamiyah. Selain itu, memberi sedekah seharusnya didasarkan pada keikhlasan dan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan sekadar memenuhi ekspektasi anak-anak yang datang hanya untuk meminta THR.
5. Budaya Jawa
Dalam budaya Jawa, menolak pemberian orang lain saat pertama kali ditawari merupakan bentuk unggah-ungguh atau sopan santun. Sikap ini dikenal dengan istilah ewuh pekewuh, yang mencerminkan rasa hormat dan tidak ingin merepotkan orang lain. Misalnya, ketika seseorang diberi oleh-oleh atau uang oleh tuan rumah, sering kali ia akan menolak secara halus meskipun akhirnya menerima dengan penuh rasa syukur jika terus didorong. Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya Jawa, menerima pemberian bukanlah hak yang harus dituntut, melainkan sebuah anugerah yang harus disikapi dengan rendah hati.
Kesimpulan
Sebagai masyarakat yang masih memegang nilai budaya dan agama, ada baiknya kita mulai mengingatkan kembali anak-anak tentang makna silaturahmi yang sesungguhnya. Orang tua perlu menanamkan nilai kesopanan, bahwa ketika bertamu, tujuan utama adalah menjaga hubungan baik, bukan mengharap pemberian. Jika pun mendapatkan hadiah atau THR, anak-anak harus diajarkan untuk menerima dengan penuh rasa syukur dan tanpa sikap menuntut. Dengan begitu, kita bisa menjaga budaya luhur yang mengajarkan rasa hormat dan tahu diri dalam setiap interaksi sosial.
Meminta-minta saat Lebaran bukanlah kebiasaan yang baik jika dilakukan tanpa kontrol. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir anak agar lebih menghargai nilai silaturahmi daripada sekadar mengejar THR. Dengan pendidikan yang benar, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki etika sosial yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
- Rohmad Avi Hidayat