Wayan Mocoh : Mengembalikan Karakter Anak yang Mager Tersebab Gadget Lewat Maplalean
Berita Warga

I Wayan Sumertha Dana Arta berujar, yang paling kekal di dunia ini adalah perubahan. Menurut seniman yang punya panggilan karib Wayan Mocoh itulah yang terjadi pada saat ini. “Semuanya berubah, tetapi harapan saya berubahnya ke arah yang lebih baik,” ujar Wayan Mocoh yang pernah bergiat kesenian di Lampung ini.
Penulis buku Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Sekala Berak ini, menegaskan, nyatanya di era digital ini perubahan justru banyak ke arah yang tidak baik khususnya pada anak-anak kita.
Lebih lanjut, seniman pemilik Sanggar Pucang Sari Tabanan yang senang berinovasi ini, mengatakan, dengan adanya handphone,gadget, anak-anak kita terlena dengan kesendiriannya. Tak bisa dipungkiri memang banyak juga hal yang positif didapatkan dari HP, tetapi jika anak kita tidak bisa menyaring justru menjerumuskan ke hal-hal negatif,
Mocoh yang kini kembali tinggal di kampung halamannya Tabanan khawatir gadget akan mebunuh anak-anak Bali Tabanan. “Saya khawatir anak-anak Bali Tabanan kehilangan sifat-sifat sosial, budaya gotong royong, dan kebersamaan dalam kegembiraan, ditambah anak-anak di usia TK SD sudah dijejali pendidikan formal sehingga masa-masa bermain-main tersandera. Kecerian mereka hilang muncul rasa malas, tidak peduli lingkungan” tandas Mocoh.
Kreativitasnya sebagai seniman Mocoh ingin mengembalikan karakter mereka lewat permainan tradisional, Maplalean, yang diciptakan lebih inovatif dan sangat mudah diterima oleh anak-anak. Maplaen permainan yang sifatnya mengembirakan dan membentuk karakter mereka sebagai makhluk sosial.
“Dengan maplalean mereka menjadi sehat, cerdas, yang paling penting berkarakter sebagai anak Bali.. Kembali menjadi anak-anak Bali Tabanan yang selalu menjunjung kebersamaan, saling menolong, sinergisitas cerdas, kreatif yang selama ini sifat tersebut dilemahkan oleh pengaruh HP,” ujar Mocoh optimistis.
Mocoh membeberkan dalam proses mengajar Maplalean melalui Sanggarnya Pucang Sari ke sekolah dilakukan dengan gratis. Dan kini pemilik Sanggar Pucang Sari yang didirikan tahun 2016 ini sudah men cipta empat permainan baru yang sudah mendapatkan hak cipta dari Dirjen Haki yakni; Maplalean Majuk-jukan, Mebalap Penyuk ke Kuabuta, Gegancangan Mondong Gabuh dan Maplalean Lari Bambu Miring.
Inovasi Maplalean
Maplalean Majuk-jukan sebagai kritik sosial bergesernya hari pengejutannya. Maplalean Majuk-jukan dua hari sebelum galungan, yang dinyanyikan dengan Sekarrare, lagunya gembira tetapi syarat kritik sosial.
Maplalean Mebalap Penyu Buta lewat Sekar Lare mengajarkan anak-anak melestarikan binatang penyu sebagai binatang laut yang langka, nilai yang terkandung yaitu kebersamaan, melatih keseimbangan dan konsentrasi anak. nilai yang terkandung yaitu kebersamaan, melatih keseimbangan dan konsentrasi anak.
Maplalean Gegancangan Mondong Gabah sebagai simbol bagaimana kegiatan petani di daerah pegunungan mempertahankan pangan kita dengan perjuangan yang keras sambil bersukaria memikul gabah sambil menyanyi.
Lari bambu miring, terinspirasi dari budaya ngarap ogoh-ogoh, saya ciptakan maplalean yang sangat sinergis dan diperlukan kekompakan untuk mencapai tujuan yang mencerminkan nilai persatuan.
Lari Bambu Miring terinspirasi dari budaya ngarap ogoh-ogoh,Mocoh men ciptakan maplalean yang sangat sinergis dan diperlukan kekompakan untuk mencapai tujuan yang mencerminkan nilai persatuan.
“Saya berharap dengan permainan yang menggembirakan ini anak-anak akan trtap bertumbuhkembang memiliki karakter dan jati diri.Inovasi permainan yang bersumber dari kerafifan lokal ini merupakan salah satu langkah dalam pemajuan kebudayaan agar tak tergerus arus modernisasi,” tegas Mocoh mengakhiri perbincangan.
Penulis buku Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Sekala Berak ini, menegaskan, nyatanya di era digital ini perubahan justru banyak ke arah yang tidak baik khususnya pada anak-anak kita.
Lebih lanjut, seniman pemilik Sanggar Pucang Sari Tabanan yang senang berinovasi ini, mengatakan, dengan adanya handphone,gadget, anak-anak kita terlena dengan kesendiriannya. Tak bisa dipungkiri memang banyak juga hal yang positif didapatkan dari HP, tetapi jika anak kita tidak bisa menyaring justru menjerumuskan ke hal-hal negatif,
Mocoh yang kini kembali tinggal di kampung halamannya Tabanan khawatir gadget akan mebunuh anak-anak Bali Tabanan. “Saya khawatir anak-anak Bali Tabanan kehilangan sifat-sifat sosial, budaya gotong royong, dan kebersamaan dalam kegembiraan, ditambah anak-anak di usia TK SD sudah dijejali pendidikan formal sehingga masa-masa bermain-main tersandera. Kecerian mereka hilang muncul rasa malas, tidak peduli lingkungan” tandas Mocoh.
Kreativitasnya sebagai seniman Mocoh ingin mengembalikan karakter mereka lewat permainan tradisional, Maplalean, yang diciptakan lebih inovatif dan sangat mudah diterima oleh anak-anak. Maplaen permainan yang sifatnya mengembirakan dan membentuk karakter mereka sebagai makhluk sosial.
“Dengan maplalean mereka menjadi sehat, cerdas, yang paling penting berkarakter sebagai anak Bali.. Kembali menjadi anak-anak Bali Tabanan yang selalu menjunjung kebersamaan, saling menolong, sinergisitas cerdas, kreatif yang selama ini sifat tersebut dilemahkan oleh pengaruh HP,” ujar Mocoh optimistis.
Mocoh membeberkan dalam proses mengajar Maplalean melalui Sanggarnya Pucang Sari ke sekolah dilakukan dengan gratis. Dan kini pemilik Sanggar Pucang Sari yang didirikan tahun 2016 ini sudah men cipta empat permainan baru yang sudah mendapatkan hak cipta dari Dirjen Haki yakni; Maplalean Majuk-jukan, Mebalap Penyuk ke Kuabuta, Gegancangan Mondong Gabuh dan Maplalean Lari Bambu Miring.
Inovasi Maplalean
Maplalean Majuk-jukan sebagai kritik sosial bergesernya hari pengejutannya. Maplalean Majuk-jukan dua hari sebelum galungan, yang dinyanyikan dengan Sekarrare, lagunya gembira tetapi syarat kritik sosial.
Maplalean Mebalap Penyu Buta lewat Sekar Lare mengajarkan anak-anak melestarikan binatang penyu sebagai binatang laut yang langka, nilai yang terkandung yaitu kebersamaan, melatih keseimbangan dan konsentrasi anak. nilai yang terkandung yaitu kebersamaan, melatih keseimbangan dan konsentrasi anak.
Maplalean Gegancangan Mondong Gabah sebagai simbol bagaimana kegiatan petani di daerah pegunungan mempertahankan pangan kita dengan perjuangan yang keras sambil bersukaria memikul gabah sambil menyanyi.
Lari bambu miring, terinspirasi dari budaya ngarap ogoh-ogoh, saya ciptakan maplalean yang sangat sinergis dan diperlukan kekompakan untuk mencapai tujuan yang mencerminkan nilai persatuan.
Lari Bambu Miring terinspirasi dari budaya ngarap ogoh-ogoh,Mocoh men ciptakan maplalean yang sangat sinergis dan diperlukan kekompakan untuk mencapai tujuan yang mencerminkan nilai persatuan.
“Saya berharap dengan permainan yang menggembirakan ini anak-anak akan trtap bertumbuhkembang memiliki karakter dan jati diri.Inovasi permainan yang bersumber dari kerafifan lokal ini merupakan salah satu langkah dalam pemajuan kebudayaan agar tak tergerus arus modernisasi,” tegas Mocoh mengakhiri perbincangan.