True Story
Berita Warga

"Yah teteh gak jadi berangkat," isi pesanku untuk ayahku. Saat itu aku seperti tak hidup, dunia pun terasa berhenti. Keberangkatanku dibatalkan dua minggu sebelum perjalanan menuju Manado. Hatiku sangat hancur, aku serasa tak ada guna lagi berada di dunia ini.
Seminggu sebelum keberangkatanku menuju manado untuk mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), aku mendapatkan kabar yang tak ingin aku dengar sampai kapan pun. Kabar itu membuat cita-cita yang selama ini aku perjuangkan terasa sangat sia-sia. Ini juga menjadi beban karena aku gagal membahagiakan kedua orangtuaku.
Saat itu aku sedang menyerahkan selembar kertas yang berisi ukuran baju untuk atlet kontingen taekwondo, namaku ada di dalam daftar itu. Dengan muka yang sangat bahagia aku menuju gedung q bagian kemahasiswaan. Tiba-tiba saja bu yossi ingin bicara kepadaku " puspa ikut ibu sebentar ke dalam," ujarnya " maaf puspa ada beberapa nama yang tidak jadi berangkat dikarenakan tidak ada kelas pertandingan di sana." aku terdiam melihat namaku dicoret, ada 5 orang yang namanya pun dicoret dan tak hanya kontingen taekwondo ada beberapa kontingen yang gagal berangkat.
Mengingat kedua orangtuaku di rumah membuat hatiku hancur, hari itu rasanya ingin cepat pulang dan memeluk kedua orangtuaku. Aku pun teringat saat pertama aku terpilih menjadi salah satu atlet yang akan berangkat, bahagia luar biasa hingga aku selalu memberitahukannya kepada orang-orang terdekatku. Terlihat jelas kebahagiaan di muka kedua orangtuaku, mereka pun sangat bahagia sama sepertiku. "Kamu ke sana sama siapa saja? Ada perempuannya tidak? Jangan macam-macam ya di sana?," kata mamah.
Aku pun tau pasti ayah dan mamah sudah memberitahukan pada teman-temannya kalau anak mereka akan mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Aku sangat hancur saat itu, setiap hari aku menangis dengan semua bayang-bayang yang terlintas dipikiranku. "Udah iklasin aja, mungkin ada hal yang lebih berharga daripada ini," ujar ayah. Ayahku seorang pengawas TK/SD di Kabupaten Cibinong, namanya Anan Hermawan ia sangat mendukungku untuk menjadi atlet. Setiap minggu ia selalu mengajakku lari keliling komplek. Ia juga sangat senang berolahraga terutama bulu tangkis.
Mamahku seorang guru agama di SDN Kedung waringin 05, ia bernama Khoiriawati. "tidak boleh seperti itu, berarti kamu nyalahin tuhan dong," kata mamah. Malam itu aku sedang berbicara padanya kenapa aku shalat setiap malam tapi aku malah gagal pergi. Aku merasa sangat bersalah sudah berbicara seperti itu, mungkin karena kekecewaanku saat itu membuatku gelap mata tetapi mamah selalu membuatku sadar kalau semua akan indah pada waktunya.
Sangat bahagia mempunyai kedua orang tuang yang selalu mendukung, memberi nasihat dan mendoakan. Mereka adalah motivasiku untuk selalu berjuang. Mulai saat ini mulai detik ini aku berjanji tidak akan menyerah dengan semua kesulitan yang ada di depan. Aku selalu bangga dengan diriku karena usaha yang telah kujalani. Kalah dengan terhomat lebih baik daripada menang dengan tidak terhomat.
Artikel kiriman Puspa Thaariqoh, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta - bogornews.com
Seminggu sebelum keberangkatanku menuju manado untuk mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), aku mendapatkan kabar yang tak ingin aku dengar sampai kapan pun. Kabar itu membuat cita-cita yang selama ini aku perjuangkan terasa sangat sia-sia. Ini juga menjadi beban karena aku gagal membahagiakan kedua orangtuaku.
Saat itu aku sedang menyerahkan selembar kertas yang berisi ukuran baju untuk atlet kontingen taekwondo, namaku ada di dalam daftar itu. Dengan muka yang sangat bahagia aku menuju gedung q bagian kemahasiswaan. Tiba-tiba saja bu yossi ingin bicara kepadaku " puspa ikut ibu sebentar ke dalam," ujarnya " maaf puspa ada beberapa nama yang tidak jadi berangkat dikarenakan tidak ada kelas pertandingan di sana." aku terdiam melihat namaku dicoret, ada 5 orang yang namanya pun dicoret dan tak hanya kontingen taekwondo ada beberapa kontingen yang gagal berangkat.
Mengingat kedua orangtuaku di rumah membuat hatiku hancur, hari itu rasanya ingin cepat pulang dan memeluk kedua orangtuaku. Aku pun teringat saat pertama aku terpilih menjadi salah satu atlet yang akan berangkat, bahagia luar biasa hingga aku selalu memberitahukannya kepada orang-orang terdekatku. Terlihat jelas kebahagiaan di muka kedua orangtuaku, mereka pun sangat bahagia sama sepertiku. "Kamu ke sana sama siapa saja? Ada perempuannya tidak? Jangan macam-macam ya di sana?," kata mamah.
Aku pun tau pasti ayah dan mamah sudah memberitahukan pada teman-temannya kalau anak mereka akan mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Aku sangat hancur saat itu, setiap hari aku menangis dengan semua bayang-bayang yang terlintas dipikiranku. "Udah iklasin aja, mungkin ada hal yang lebih berharga daripada ini," ujar ayah. Ayahku seorang pengawas TK/SD di Kabupaten Cibinong, namanya Anan Hermawan ia sangat mendukungku untuk menjadi atlet. Setiap minggu ia selalu mengajakku lari keliling komplek. Ia juga sangat senang berolahraga terutama bulu tangkis.
Mamahku seorang guru agama di SDN Kedung waringin 05, ia bernama Khoiriawati. "tidak boleh seperti itu, berarti kamu nyalahin tuhan dong," kata mamah. Malam itu aku sedang berbicara padanya kenapa aku shalat setiap malam tapi aku malah gagal pergi. Aku merasa sangat bersalah sudah berbicara seperti itu, mungkin karena kekecewaanku saat itu membuatku gelap mata tetapi mamah selalu membuatku sadar kalau semua akan indah pada waktunya.
Sangat bahagia mempunyai kedua orang tuang yang selalu mendukung, memberi nasihat dan mendoakan. Mereka adalah motivasiku untuk selalu berjuang. Mulai saat ini mulai detik ini aku berjanji tidak akan menyerah dengan semua kesulitan yang ada di depan. Aku selalu bangga dengan diriku karena usaha yang telah kujalani. Kalah dengan terhomat lebih baik daripada menang dengan tidak terhomat.
Artikel kiriman Puspa Thaariqoh, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta - bogornews.com