Ragam Nusantara: Upacara Adat Madhilakhiran Wonontoro
Berita Warga
Madhilakhiran Wonontoro terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta untuk Kategori: Upacara Adat, Ritus, Upacara Tradisional Kabupaten Gunung Kidul dengan Nomor : 129245/MPK.F/KB/2020
Sejarah upacara adat ini dilatarbelakangi pada masa Kerajaan Majapahit berperang melawan Kerajaan Demak yang mengakibatkan Kerajaan Majapahit runtuh, salah seorang putra dari garwa selir Prabu Brawijaya yang bernama Ki Ageng Wonokusumo tidak mau tunduk kepada Kerajaan Demak. Ia kemudian melarikan diri menuju ke arah barat yatu ke Jawa Tengah. Disamping bertujuan untuk mengungsi juga atas anjuran Prabu Brawijaya bahwa wahyu kraton akan berpindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah untuk selama-lamanya. Sosok Ki Ageng Wonokusumo kemudian dipercaya oleh masyarakat sebagai cikal bakal dan pengayom masyarakat pelestari upacara adat ini yaitu di Dusun Wonontoro, Desa Jatiayu, Karangmojo, Gunung Kidul.
Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan upacara adat Madilakiran Wonontoro menggunakan pathokan ‘pedoman’ kalender Jawa yaitu pada bulan Madilakir dengan mengambil hari Senin Legi atau Kamis Legi antara tanggal 20 – 25.
Nilai dan Fungsi
Upacara adat Madilakiran Wonontoro banyak mengandung nilai-nilai antara lain: nilai ketaqwaan kepada Sang Pencipta, nilai gotongroyong, nilai pelestarian lingkungan hidup, nilai pelestarian budaya, nilai etos kerja, dan sebagainya. Bagi masyarakat adanya upacara adat Madilakiran Wonontoro dapat menambah rasa persatuan, persaudaraan dan kegotongroyongan
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbwtbdiy.com)
Sejarah upacara adat ini dilatarbelakangi pada masa Kerajaan Majapahit berperang melawan Kerajaan Demak yang mengakibatkan Kerajaan Majapahit runtuh, salah seorang putra dari garwa selir Prabu Brawijaya yang bernama Ki Ageng Wonokusumo tidak mau tunduk kepada Kerajaan Demak. Ia kemudian melarikan diri menuju ke arah barat yatu ke Jawa Tengah. Disamping bertujuan untuk mengungsi juga atas anjuran Prabu Brawijaya bahwa wahyu kraton akan berpindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah untuk selama-lamanya. Sosok Ki Ageng Wonokusumo kemudian dipercaya oleh masyarakat sebagai cikal bakal dan pengayom masyarakat pelestari upacara adat ini yaitu di Dusun Wonontoro, Desa Jatiayu, Karangmojo, Gunung Kidul.
Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan upacara adat Madilakiran Wonontoro menggunakan pathokan ‘pedoman’ kalender Jawa yaitu pada bulan Madilakir dengan mengambil hari Senin Legi atau Kamis Legi antara tanggal 20 – 25.
Nilai dan Fungsi
Upacara adat Madilakiran Wonontoro banyak mengandung nilai-nilai antara lain: nilai ketaqwaan kepada Sang Pencipta, nilai gotongroyong, nilai pelestarian lingkungan hidup, nilai pelestarian budaya, nilai etos kerja, dan sebagainya. Bagi masyarakat adanya upacara adat Madilakiran Wonontoro dapat menambah rasa persatuan, persaudaraan dan kegotongroyongan
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbwtbdiy.com)