Ragam Nusantara: Sadranan Gunungkidul Gunung Genthong
Berita Warga
Sadranan Gunungkidul Gunung Genthong terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta untuk kategori: Adat istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan Kabupaten Gunung Kidul dengan Nomor: 103617/MPK.E/KB/2019
Pada sekitar abad XIV M, para punggawa Kerajaan Majapahit dan Demak singgah dan hidup di bumi Gunungkidul, yakni Raden Patah,Prabu Brawijaya, Ki Ageng Giring, an Ki Pemahanan pernah hidup dan tinggal di Gunungkidul yang dipercaya meninggalkan situs petilasan dan memberi kebaikan kepada anak cucu Gunungkidul, termasuk di Gunung Gentong.
Sadranan ini diselenggarakan satu tahun sekali pada hari Selasa Kliwon menurut penanggalan Jawa sehabis panen pertama pertengahan marengan palawija. Tiga puluh lima hari setelah sadranan dilakukan, biasanya akan dilaksanakan rasulan di Gubug Gedhe yakni upacara syukur sehabis panen.
Acara dilaksanakan selama 10 hari, diisi dengan kegiatan pasar malam, wayangan, dan lomba olahraga antar pemuda-pemudi desa, pentas wayang kulit dan rasulan. Gubug Gedhe dipercaya sebagai tempat mesanggrah pengikut kanjeng Brawijaya V. Acara ditutup dengan doa dan kenduri bersama
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)
Pada sekitar abad XIV M, para punggawa Kerajaan Majapahit dan Demak singgah dan hidup di bumi Gunungkidul, yakni Raden Patah,Prabu Brawijaya, Ki Ageng Giring, an Ki Pemahanan pernah hidup dan tinggal di Gunungkidul yang dipercaya meninggalkan situs petilasan dan memberi kebaikan kepada anak cucu Gunungkidul, termasuk di Gunung Gentong.
Sadranan ini diselenggarakan satu tahun sekali pada hari Selasa Kliwon menurut penanggalan Jawa sehabis panen pertama pertengahan marengan palawija. Tiga puluh lima hari setelah sadranan dilakukan, biasanya akan dilaksanakan rasulan di Gubug Gedhe yakni upacara syukur sehabis panen.
Acara dilaksanakan selama 10 hari, diisi dengan kegiatan pasar malam, wayangan, dan lomba olahraga antar pemuda-pemudi desa, pentas wayang kulit dan rasulan. Gubug Gedhe dipercaya sebagai tempat mesanggrah pengikut kanjeng Brawijaya V. Acara ditutup dengan doa dan kenduri bersama
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)