Ragam Nusantara: Ritual Adat Ngalangi
Citizen News
Ritual Adat Ngalangi terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta untuk Kategori: Upacara Adat, Ritus, Upacara Tradisional
Kabupaten Gunung Kidul dengan Nomor: 0006/F4/KB,04.04/2021
Kata Ngalangi berasal dari kata alang, sisi yang pendek atau yang melintang, alangan berarti rintangan, nglanagi berarti merintangi. Istilah kata ngalangi ini berkaitan dengan sejrah hadirnya ngalangi di Padukuhan Wonosobo, Kelurahan banjarrejo, kecamatan tepus, kabupaten Gunung Kidul. Istilah Ngalangi timbul sewaktu jaman Kebekelan yaitu ketika daerah Banjarejo (Sekarang) masih utuh berdiri sendiri. Kemudian tahunn 1912, daerah tersebut dipecah menjadi dua yaitu Keruk (wilayah sebelah barat) dan Padhangan (wilayah sebelah timur). Demikian berjalan bertahun-tahun hingga pada tahun 1947 dua wilayah tersebut dijadikan satu lagi, sampai sekarang bernama kelurahan Banjarejo. Jadi upacara Ngalangi ini telah ada sekitar 109 tahun.
Upacara Ngalangi juga merupakan ucapan terimakasih pada yang maha kuasa atas rejeki panen yang diberikan. Penduduk selain bermata pencaharian sebagai petani gaga juga sebagai pencari ikan di laut. Oleh karena kondisi laut yang luar biasa banyak tantangannya, maka wajar jika masyarakat melaksanakan upacara untuk meminta keselamatan dalam menjalani pekerjaannya. Upacara Ngalangi juga merupakan bentuk memohon pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena seluruh warga yang mempunyai pekerjaan di Laut Selatan selalu selamat dan tidak mengganggu serta mendapat gangguan dari mahkluk halus yang tinggal di Laut Selatan.
Upacara ngalangi dilakukan dalam dua tahap : 1. Masang gawar (memasang akar wawar pugon) 2. Upacara nglarung sesaji. Masyarakat percaya adanya tokoh Ni Lurik dan Ki Lurik yang menguasai Kedung di sekitar Drini yang menguasai laut dan ikan yang ada di Laut Selatan.
Waktu pelaksanaan Ngalangi berbeda diantara kedua wilayah di atas, di Banjarejo pelaksanaan Ngalangi dilaksanakan pada hari Jum’at Wage sedangkan di Wediombo, pelaksanaan dilaksanakan pada Kamis Wage, untuk jam, bulan, dan wuku pelaksanaannya menurut perhitungan para sesepuh desa.
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)
Kabupaten Gunung Kidul dengan Nomor: 0006/F4/KB,04.04/2021
Kata Ngalangi berasal dari kata alang, sisi yang pendek atau yang melintang, alangan berarti rintangan, nglanagi berarti merintangi. Istilah kata ngalangi ini berkaitan dengan sejrah hadirnya ngalangi di Padukuhan Wonosobo, Kelurahan banjarrejo, kecamatan tepus, kabupaten Gunung Kidul. Istilah Ngalangi timbul sewaktu jaman Kebekelan yaitu ketika daerah Banjarejo (Sekarang) masih utuh berdiri sendiri. Kemudian tahunn 1912, daerah tersebut dipecah menjadi dua yaitu Keruk (wilayah sebelah barat) dan Padhangan (wilayah sebelah timur). Demikian berjalan bertahun-tahun hingga pada tahun 1947 dua wilayah tersebut dijadikan satu lagi, sampai sekarang bernama kelurahan Banjarejo. Jadi upacara Ngalangi ini telah ada sekitar 109 tahun.
Upacara Ngalangi juga merupakan ucapan terimakasih pada yang maha kuasa atas rejeki panen yang diberikan. Penduduk selain bermata pencaharian sebagai petani gaga juga sebagai pencari ikan di laut. Oleh karena kondisi laut yang luar biasa banyak tantangannya, maka wajar jika masyarakat melaksanakan upacara untuk meminta keselamatan dalam menjalani pekerjaannya. Upacara Ngalangi juga merupakan bentuk memohon pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena seluruh warga yang mempunyai pekerjaan di Laut Selatan selalu selamat dan tidak mengganggu serta mendapat gangguan dari mahkluk halus yang tinggal di Laut Selatan.
Upacara ngalangi dilakukan dalam dua tahap : 1. Masang gawar (memasang akar wawar pugon) 2. Upacara nglarung sesaji. Masyarakat percaya adanya tokoh Ni Lurik dan Ki Lurik yang menguasai Kedung di sekitar Drini yang menguasai laut dan ikan yang ada di Laut Selatan.
Waktu pelaksanaan Ngalangi berbeda diantara kedua wilayah di atas, di Banjarejo pelaksanaan Ngalangi dilaksanakan pada hari Jum’at Wage sedangkan di Wediombo, pelaksanaan dilaksanakan pada Kamis Wage, untuk jam, bulan, dan wuku pelaksanaannya menurut perhitungan para sesepuh desa.
Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)