Ragam Nusantara: Piramida-piramida Lawu
Berita Warga
Motor Supra yang saya kendarai berderum. Jalan kian menanjak. Saya mulai waswas. Bagaimana jika mesinnya hangus atau rantainya putus? Ini motor pinjaman. Bisa gawat kalau sampai rusak. Namun, saya sudah jauh-jauh ke sini dan sedikit lagi sampai. Saya beranikan diri untuk terus melaju di tanjakan terjal lereng Lawu.
Di ketinggian seperti ini, langit bisa menangis kapan saja, tapi saya cukup beruntung hari itu cerah. Akan merepotkan jika hujan merintangi lawatan saya kemari. Sebab, ada beberapa situs kuno yang ingin saya kunjungi di lereng gunung wingit ini, yaitu Candi Cetho, Kethek, dan Sukuh.
Ketiga candi tersebut mengadopsi arsitektur yang unik dibandingkan candi-candi lain di Jawa. Situs-situs itu menyerupai kuil kuno di Amerika Latin yang berbentuk piramida.
Bahkan, ada yang secara asal-asalan menduga bahwa bangunan-bangunan tua itu merupakan peninggalan Suku Maya. Menggelikan. Namun, ketika berhadapan langsung dengan piramida-piramida Lawu, saya tidak bisa bilang bahwa mereka tak mirip dengan kuil kuno Amerika Latin.
Candi Cetho, Sukuh, dan Kethek berbentuk piramida dengan ujung terpancung. Tubuh bangunan tersusun dari bebatuan andesit, berdiri kokoh di antara kekuatan alam dan waktu.
Candi Cetho dan Sukuh tampaknya telah banyak dipugar. Kedua candi itu kini banyak dikunjungi wisatawan. Namun, tidak dengan candi Kethek yang sepertinya belum banyak mengalami perbaikan. Strukturnya yang sangat purba dan letaknya yang jauh dari permukiman menambah aura sakral bangunan kuno itu. Saya tidak bisa tidak merinding saat berdiri seorang diri di depannya, di tengah desau udara dan suara penghuni alas Gunung Lawu.
Soal arsitektur yang mirip antara ketiga candi itu, saya pikir lazim, lantaran mereka berada di wilayah yang sama dan berasal dari satu garis waktu. Akan tetapi, bagaimana bisa ketiganya menyerupai situs-situs purba di benua yang jauh? Mengapa bangsa yang terpisah ribuan kilometer menciptakan bangunan suci dengan gaya yang sama? Lebih-lebih, tak seperti budaya India, pada masa lalu, pengaruh peradaban Mesoamerika sepertinya tak sampai ke Jawa.
Beberapa ahli berpendapat bahwa struktur piramida candi-candi di lereng Lawu merupakan perpaduan tradisi Hindu-Buddha dan budaya lokal yang lebih tua. Diduga, situs-situs itu dibangun pada masa akhir Hindu-Buddha di Jawa.
Selengkapnya: https://etnis.id/piramida-piramida-lawu/
Penulis: Asief Abdi
Penyunting: Nadya Gadzali
Di ketinggian seperti ini, langit bisa menangis kapan saja, tapi saya cukup beruntung hari itu cerah. Akan merepotkan jika hujan merintangi lawatan saya kemari. Sebab, ada beberapa situs kuno yang ingin saya kunjungi di lereng gunung wingit ini, yaitu Candi Cetho, Kethek, dan Sukuh.
Ketiga candi tersebut mengadopsi arsitektur yang unik dibandingkan candi-candi lain di Jawa. Situs-situs itu menyerupai kuil kuno di Amerika Latin yang berbentuk piramida.
Bahkan, ada yang secara asal-asalan menduga bahwa bangunan-bangunan tua itu merupakan peninggalan Suku Maya. Menggelikan. Namun, ketika berhadapan langsung dengan piramida-piramida Lawu, saya tidak bisa bilang bahwa mereka tak mirip dengan kuil kuno Amerika Latin.
Candi Cetho, Sukuh, dan Kethek berbentuk piramida dengan ujung terpancung. Tubuh bangunan tersusun dari bebatuan andesit, berdiri kokoh di antara kekuatan alam dan waktu.
Candi Cetho dan Sukuh tampaknya telah banyak dipugar. Kedua candi itu kini banyak dikunjungi wisatawan. Namun, tidak dengan candi Kethek yang sepertinya belum banyak mengalami perbaikan. Strukturnya yang sangat purba dan letaknya yang jauh dari permukiman menambah aura sakral bangunan kuno itu. Saya tidak bisa tidak merinding saat berdiri seorang diri di depannya, di tengah desau udara dan suara penghuni alas Gunung Lawu.
Soal arsitektur yang mirip antara ketiga candi itu, saya pikir lazim, lantaran mereka berada di wilayah yang sama dan berasal dari satu garis waktu. Akan tetapi, bagaimana bisa ketiganya menyerupai situs-situs purba di benua yang jauh? Mengapa bangsa yang terpisah ribuan kilometer menciptakan bangunan suci dengan gaya yang sama? Lebih-lebih, tak seperti budaya India, pada masa lalu, pengaruh peradaban Mesoamerika sepertinya tak sampai ke Jawa.
Beberapa ahli berpendapat bahwa struktur piramida candi-candi di lereng Lawu merupakan perpaduan tradisi Hindu-Buddha dan budaya lokal yang lebih tua. Diduga, situs-situs itu dibangun pada masa akhir Hindu-Buddha di Jawa.
Selengkapnya: https://etnis.id/piramida-piramida-lawu/
Penulis: Asief Abdi
Penyunting: Nadya Gadzali