Ragam Nusantara: Asal-Usul Kembang Api di Jawa
Berita Warga
Kembang api telah lama sekali menjadi bagian dari pesta, perayaan, dan macam-macam kemeriahan. Lama sekali yang dimaksud di sini pun sudah menyentuh angka belasan abad. Pasalnya, catatan dan taksiran tentang lahirnya apa yang kini kita sebut sebagai kembang api menunjukkan kisaran angka 1.200 tahun lalu.
Lahirnya kembang api bertalian erat dengan kerja alkemis Tiongkok Kuno zaman Dinasti Tang (618-907 Masehi) mencoba menciptakan ramuan yang bisa memenuhi obsesi manusia selama ribuan tahun, yakni hidup abadi. Lewat mencampur kalium nitrat, sulfur, dan arang, para alkemis itu mendapatkan suatu bubuk. Namun dalam uji cobanya, campuran bahan kimia tersebut justru menghasilkan ledakan. Menurut catatan Tiongkok dari tahun 850-an, ledakan tersebut menghasilkan cahaya, suara, asap, dan percikan api. Sampai terbakarlah jadinya tangan dan muka para alkemis maupun rumah yang dipakai untuk uji coba. Yang semula diharapkan bakal menjadi ramuan hidup abadi malah melahirkan bubuk mesiu.
Penemuan tadi nantinya akan berkembang terus-terus dan turut menghasilkan senjata-senjata dahsyat penghasil ledakan, juga berperan melipat-gandakan kengerian pertempuran dan perang.
Kembali untuk mencermati dulu seputar bubuk mesiu pada sekitar awal penemuannya, masyarakat Tiongkok Kuno meyakini ledakan bubuk mesiu bisa mengusir roh jahat. Dalam perkembangannnya; bubuk mesiu berdaya ledak rendah kerap dihadirkan dalam perayaan seperti pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan dan upacara-upacara keagamaan.
Demi keamanan, para ilmuwan bereksperimen membungkus mesiu ke dalam tunas bambu dan mengujinya dengan cara melempar ke dalam api. Alhasil, mereka berhasil menciptakan kembang api pertama di dunia. Model kembang api pun berevolusi dari waktu ke waktu. Pembungkus tunas bambu kemudian diganti tabung kertas dengan sumbu yang berbahan tisu. Dari sinilah, kita mengenal kembang api berbentuk petasan seperti sekarang.
Heather Whipps dalam How Gunpower Changed the World (2008) menjelaskan bahwa petasan dengan bubuk mesiu kemudian diadaptasi oleh militer Tiongkok sebagai bagian dari senjata panah, meriam, dan granat. Berkat senjata tersebut, pasukan Dinasti Sung (960-1279) berhasil melawan bangsa Mongol yang terus menginvasi wilayah mereka.
Keberhasilan militer Dinasti Sung ini kemudian menarik minat penjelajah Italia, Marcopolo. Dalam penjelajahannya tahun 1295, ia membawa bubuk mesiu dari Tiongkok ke Eropa. Dari sinilah, mesiu melintas ke Eropa, Timur Tengah, dan seluruh dunia. Mesiu pun tidak hanya dimanfaatkan untuk persenjataan, tetapi ide orisinal kembang api juga tetap ditampilkan dalam perayaan. Salah satunya pesta kembang api pertama adalah Royal Wedding Raja Henry VII dari Inggris dan istrinya pada 1486.
Francis Lieber dalam Encyclopedia Americana (1973), menjelaskan bahwa pada perkembangannya, kembang api juga digunakan untuk merayakan beragam festival seperti Halloween dan Natal, kedatangan musim semi di Jerman, Pekan Suci di Meksiko, Hari Orang Suci di Amerika Selatan, dan hari libur nasional seperti Empat Juli di Amerika Serikat dan Hari Bastille di Prancis. Dalam hal ini, orang Italia dianggap sebagai pemimpin awal dalam pementasan pertunjukan kembang api di bawah naungan militer; tepatnya untuk festival keagamaan, penobatan, pernikahan atau kelahiran kerajaan, dan kemenangan militer. Pada abad ke-15, di Siena, juga muncul figur dari kayu dan plester yang mengeluarkan api dari mulut/mata mereka dan digunakan dalam produksi cerita dan fabel yang dramatis. Bahkan abad ke-18 menjadi titik tertinggi dalam popularitas tontonan kembang api resmi.
Di Indonesia, tradisi petasan di bawa sendiri oleh orang-orang Tiongkok. Alwi Sahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001:86), mengatakan bahwa 30 persen penduduk kota Batavia abad ke-18 adalah orang Tiongkok. Para imigran ini tetap mempertahankan identitas dan kebudayaan nenek moyangnya seperti main judi, minum arak, dan memasang petasan atau mercon. Budaya tersebut diadaptasi oleh masyarakat Betawi. Namun bukan hanya sebagai pengusir roh jahat, tetapi juga sebagai alat komunikasi antarkampung. Komunikasi antar kampung lebih bersifat undangan karena petasan akan dibunyikan di upacara pernikahan, khitanan, lebaran, maulid nabi, isra’ mihraj, dan doa bersama sebelum berangkat haji. Konon semakin banyak petasan yang dibunyikan, semakin tinggi status sosial orang yang punya hajat.
Seperti sekarang, petasan yang berkembang di Nusantara juga dibedakan menjadi petasan lokal dan petasan impor. Khususnya di Jawa, petasan lokal dibuat di daerah Bogor oleh seorang pengusaha Tiongkok secara turun-temurun. Sementara petasan impor berasal dari Jepang. Dibanding petasan lokal, petasan Jepang harganya lebih mahal karena suara dan ledakannya lebih kuat dan nyaring.
Pada periode kolonialisme Belanda, petasan banyak dijual di Glodog, Senen, Tanah Abang, dan Mester (Jatinegara). Jumlah petasan akan meningkat ketika setiap mendekati tanggal 31 Agustus, karena pada tanggal tersebut diselenggarakan pesta kembang untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina.
Selain untuk agenda rutin, pesta kembang api juga pernah terdokumentasi pada pernikahan Gubernur Belanda di Surakarta Baron von Hohendorff (1748) dan pameran dagang di Pasar Gambir, Jakarta (1922). Hal ini menunjukkan bahwa pesta kembang api untuk memperingati tahun baru Masehi sebenarnya adalah hasil akulturasi budaya Tiongkok dan budaya Barat.
Penulis: RESTU A RAHAYUNINGSIH/Peneliti Museum Ullen Sentalu
Selengkapnya bisa dibaca di: http://ullensentalu.com/kajian/asal-usul-kembang-api-di-jawa
Lahirnya kembang api bertalian erat dengan kerja alkemis Tiongkok Kuno zaman Dinasti Tang (618-907 Masehi) mencoba menciptakan ramuan yang bisa memenuhi obsesi manusia selama ribuan tahun, yakni hidup abadi. Lewat mencampur kalium nitrat, sulfur, dan arang, para alkemis itu mendapatkan suatu bubuk. Namun dalam uji cobanya, campuran bahan kimia tersebut justru menghasilkan ledakan. Menurut catatan Tiongkok dari tahun 850-an, ledakan tersebut menghasilkan cahaya, suara, asap, dan percikan api. Sampai terbakarlah jadinya tangan dan muka para alkemis maupun rumah yang dipakai untuk uji coba. Yang semula diharapkan bakal menjadi ramuan hidup abadi malah melahirkan bubuk mesiu.
Penemuan tadi nantinya akan berkembang terus-terus dan turut menghasilkan senjata-senjata dahsyat penghasil ledakan, juga berperan melipat-gandakan kengerian pertempuran dan perang.
Kembali untuk mencermati dulu seputar bubuk mesiu pada sekitar awal penemuannya, masyarakat Tiongkok Kuno meyakini ledakan bubuk mesiu bisa mengusir roh jahat. Dalam perkembangannnya; bubuk mesiu berdaya ledak rendah kerap dihadirkan dalam perayaan seperti pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan dan upacara-upacara keagamaan.
Demi keamanan, para ilmuwan bereksperimen membungkus mesiu ke dalam tunas bambu dan mengujinya dengan cara melempar ke dalam api. Alhasil, mereka berhasil menciptakan kembang api pertama di dunia. Model kembang api pun berevolusi dari waktu ke waktu. Pembungkus tunas bambu kemudian diganti tabung kertas dengan sumbu yang berbahan tisu. Dari sinilah, kita mengenal kembang api berbentuk petasan seperti sekarang.
Heather Whipps dalam How Gunpower Changed the World (2008) menjelaskan bahwa petasan dengan bubuk mesiu kemudian diadaptasi oleh militer Tiongkok sebagai bagian dari senjata panah, meriam, dan granat. Berkat senjata tersebut, pasukan Dinasti Sung (960-1279) berhasil melawan bangsa Mongol yang terus menginvasi wilayah mereka.
Keberhasilan militer Dinasti Sung ini kemudian menarik minat penjelajah Italia, Marcopolo. Dalam penjelajahannya tahun 1295, ia membawa bubuk mesiu dari Tiongkok ke Eropa. Dari sinilah, mesiu melintas ke Eropa, Timur Tengah, dan seluruh dunia. Mesiu pun tidak hanya dimanfaatkan untuk persenjataan, tetapi ide orisinal kembang api juga tetap ditampilkan dalam perayaan. Salah satunya pesta kembang api pertama adalah Royal Wedding Raja Henry VII dari Inggris dan istrinya pada 1486.
Francis Lieber dalam Encyclopedia Americana (1973), menjelaskan bahwa pada perkembangannya, kembang api juga digunakan untuk merayakan beragam festival seperti Halloween dan Natal, kedatangan musim semi di Jerman, Pekan Suci di Meksiko, Hari Orang Suci di Amerika Selatan, dan hari libur nasional seperti Empat Juli di Amerika Serikat dan Hari Bastille di Prancis. Dalam hal ini, orang Italia dianggap sebagai pemimpin awal dalam pementasan pertunjukan kembang api di bawah naungan militer; tepatnya untuk festival keagamaan, penobatan, pernikahan atau kelahiran kerajaan, dan kemenangan militer. Pada abad ke-15, di Siena, juga muncul figur dari kayu dan plester yang mengeluarkan api dari mulut/mata mereka dan digunakan dalam produksi cerita dan fabel yang dramatis. Bahkan abad ke-18 menjadi titik tertinggi dalam popularitas tontonan kembang api resmi.
Di Indonesia, tradisi petasan di bawa sendiri oleh orang-orang Tiongkok. Alwi Sahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001:86), mengatakan bahwa 30 persen penduduk kota Batavia abad ke-18 adalah orang Tiongkok. Para imigran ini tetap mempertahankan identitas dan kebudayaan nenek moyangnya seperti main judi, minum arak, dan memasang petasan atau mercon. Budaya tersebut diadaptasi oleh masyarakat Betawi. Namun bukan hanya sebagai pengusir roh jahat, tetapi juga sebagai alat komunikasi antarkampung. Komunikasi antar kampung lebih bersifat undangan karena petasan akan dibunyikan di upacara pernikahan, khitanan, lebaran, maulid nabi, isra’ mihraj, dan doa bersama sebelum berangkat haji. Konon semakin banyak petasan yang dibunyikan, semakin tinggi status sosial orang yang punya hajat.
Seperti sekarang, petasan yang berkembang di Nusantara juga dibedakan menjadi petasan lokal dan petasan impor. Khususnya di Jawa, petasan lokal dibuat di daerah Bogor oleh seorang pengusaha Tiongkok secara turun-temurun. Sementara petasan impor berasal dari Jepang. Dibanding petasan lokal, petasan Jepang harganya lebih mahal karena suara dan ledakannya lebih kuat dan nyaring.
Pada periode kolonialisme Belanda, petasan banyak dijual di Glodog, Senen, Tanah Abang, dan Mester (Jatinegara). Jumlah petasan akan meningkat ketika setiap mendekati tanggal 31 Agustus, karena pada tanggal tersebut diselenggarakan pesta kembang untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina.
Selain untuk agenda rutin, pesta kembang api juga pernah terdokumentasi pada pernikahan Gubernur Belanda di Surakarta Baron von Hohendorff (1748) dan pameran dagang di Pasar Gambir, Jakarta (1922). Hal ini menunjukkan bahwa pesta kembang api untuk memperingati tahun baru Masehi sebenarnya adalah hasil akulturasi budaya Tiongkok dan budaya Barat.
Penulis: RESTU A RAHAYUNINGSIH/Peneliti Museum Ullen Sentalu
Selengkapnya bisa dibaca di: http://ullensentalu.com/kajian/asal-usul-kembang-api-di-jawa