Peserta LATGAB DAN BHAKTI SIBAT Kab. Sukabumi ikuti Materi membangun ketangguhan krisis iklim
Berita Warga

Kebumen, Jawa Tengah – Peserta Latihan Gabungan (LATGAB) dan Bhakti SIBAT dari berbagai daerah mengikuti materi bertajuk “Membangun Ketangguhan Krisis Iklim dengan Respon Antisipatif Berbasis Dampak” yang diadakan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang semakin mendesak.
Materi ini berfokus pada pentingnya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, yang sering kali memicu bencana seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas. Para peserta diberikan pengetahuan tentang bagaimana merespons krisis iklim secara antisipatif dengan mengutamakan mitigasi dan adaptasi berbasis dampak.
Koordinator pelatihan menyatakan bahwa pendekatan berbasis dampak sangat penting dalam merespons krisis iklim, mengingat intensitas bencana yang semakin meningkat. “Pendekatan ini mendorong relawan dan masyarakat untuk lebih siap, tidak hanya dalam merespons bencana saat terjadi, tetapi juga dalam mengantisipasi dampak yang bisa terjadi di masa mendatang,” jelasnya.
Selain itu, dalam kegiatan Bhakti SIBAT, peserta juga melakukan aksi lingkungan yang bertujuan untuk mendukung ketangguhan krisis iklim, seperti penanaman pohon dan kampanye pengurangan sampah plastik. Para peserta dari berbagai daerah, termasuk Sukabumi, menunjukkan komitmen mereka dalam memperkuat kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim melalui tindakan nyata.
Dengan materi ini, diharapkan para relawan SIBAT dapat menjadi agen perubahan di komunitas mereka, meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi dampak krisis iklim, serta berperan aktif dalam membangun ketangguhan desa dan kota di seluruh Indonesia.
Materi ini berfokus pada pentingnya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, yang sering kali memicu bencana seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas. Para peserta diberikan pengetahuan tentang bagaimana merespons krisis iklim secara antisipatif dengan mengutamakan mitigasi dan adaptasi berbasis dampak.
Koordinator pelatihan menyatakan bahwa pendekatan berbasis dampak sangat penting dalam merespons krisis iklim, mengingat intensitas bencana yang semakin meningkat. “Pendekatan ini mendorong relawan dan masyarakat untuk lebih siap, tidak hanya dalam merespons bencana saat terjadi, tetapi juga dalam mengantisipasi dampak yang bisa terjadi di masa mendatang,” jelasnya.
Selain itu, dalam kegiatan Bhakti SIBAT, peserta juga melakukan aksi lingkungan yang bertujuan untuk mendukung ketangguhan krisis iklim, seperti penanaman pohon dan kampanye pengurangan sampah plastik. Para peserta dari berbagai daerah, termasuk Sukabumi, menunjukkan komitmen mereka dalam memperkuat kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim melalui tindakan nyata.
Dengan materi ini, diharapkan para relawan SIBAT dapat menjadi agen perubahan di komunitas mereka, meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi dampak krisis iklim, serta berperan aktif dalam membangun ketangguhan desa dan kota di seluruh Indonesia.