Merti Desa Kalurahan Kedundang Adalah Upaya Membangun Kemakmuran Desa
Berita Warga

Puncak Peringatan Merti Kalurahan Kedundang diselenggarakan belum lama ini masih dalam suasana hari kemerdekaan RI ke 79, bertempat di halaman Kalurahan Kedundang, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo pada 30 Agustus 2024. Peringatan di hadiri oleh Lurah beserta pamong, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Badan Permusyawaran Kalurahan (BPK), tokoh dan masyarakat setempat.
“Rangkaian kegiatan Merti Kalurahan ini cukup panjang sekitar 1 bulan, dan hari ini menjadi puncak kegiatan dengan diisi pentas (ruang ekspresi) bagi anak-anak” seperti yang disampaikan Totok salah satu pamong Kalurahan Kedundang.
Merti Kalurahan bisa diartikan menjaga atau merawat kalurahan, merupakan tradisi yang berkembang di wilayah perdesaan di daerah Jawa. Merti Kalurahan adalah doa dan upaya menjaga/merawat desa agar meberikan kemakmuran, kesejahteraan, lepas dari bencana dan dirahmati oleh Tuhan.
Dalam merawat desa /Merti desa diwujudkan dalam bentuk menjaga dan melestarikan identitas dan karakter budayanya. Melalui penampilan seni budaya yang dipentaskan oleh anak dan remaja akan meyakinkan budaya mereka tetap lestari.
Pendekatan seni budaya akan menumbuhkan generasi penerus desa. Kelompok seni merupakan ruang kaderisasi kultural yang berkembang di desa. Banyak tokoh desa yang tumbuh dalam ruang seni menjadi tokoh pemimpin yang berdedikasi kuat, populis, relawan, berkarakter dan humanis.
Merti desa adalah upaya menjaga kesimbangan alam lingkungan yang ditempatinya. Melalui lomba kebersihan lingkungan akan menjaga semangat warga dalam menjaga ruang berkelanjutan, menjadikan ruang yang sehat dan nyaman untuk kelangsungan kehidupan.
Dalam sambutannya Lurah Kedundang Abdul Rosyid menyampaikan bahwa dalam penilaian lomba ini juga ditentukan oleh ketaatan pembayaran pajak. Ketaatan membayar pajak menjadi penilaian penting karena pajak merupakan kewajiban dari warga desa, Ketatan membayar pajak ini akan mendukung suksesnya pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah untuk kemajuan bersama.
Merti desa juga merupakan upaya menjaga dinamika dimasyarakat melalui lomba bulu tangkis. Spirit berjuang dalam perlombaan akan melahirkan generasinyang pantang menyerah dalam menghadapi dinamika kehidupan. Selain untuk menampung secara konstruktif hobi olah raga yang berkembang dimasyarakat desa.
Merti desa akan melahirkan, menguatkan atau memunculkan sebuah spirit kebersamaan dalam menjaga desa. Semangat dituangkan dalam tema kegiatan "Saiyeg saeka praya hanggayuh rahahayuning desa" saiyeg saeko proyo bermakna bahwa dalam menjaga desa dibutuhkan semangat bersama untuk menuju kemakmuran desa. Merti desa adalah menjaga desa adalah menjaga semangat kebersamaan untuk mencapai “rahayuning” kemakmuran dan kesejahteraan desa/kalurahan.
“Rangkaian kegiatan Merti Kalurahan ini cukup panjang sekitar 1 bulan, dan hari ini menjadi puncak kegiatan dengan diisi pentas (ruang ekspresi) bagi anak-anak” seperti yang disampaikan Totok salah satu pamong Kalurahan Kedundang.
Merti Kalurahan bisa diartikan menjaga atau merawat kalurahan, merupakan tradisi yang berkembang di wilayah perdesaan di daerah Jawa. Merti Kalurahan adalah doa dan upaya menjaga/merawat desa agar meberikan kemakmuran, kesejahteraan, lepas dari bencana dan dirahmati oleh Tuhan.
Dalam merawat desa /Merti desa diwujudkan dalam bentuk menjaga dan melestarikan identitas dan karakter budayanya. Melalui penampilan seni budaya yang dipentaskan oleh anak dan remaja akan meyakinkan budaya mereka tetap lestari.
Pendekatan seni budaya akan menumbuhkan generasi penerus desa. Kelompok seni merupakan ruang kaderisasi kultural yang berkembang di desa. Banyak tokoh desa yang tumbuh dalam ruang seni menjadi tokoh pemimpin yang berdedikasi kuat, populis, relawan, berkarakter dan humanis.
Merti desa adalah upaya menjaga kesimbangan alam lingkungan yang ditempatinya. Melalui lomba kebersihan lingkungan akan menjaga semangat warga dalam menjaga ruang berkelanjutan, menjadikan ruang yang sehat dan nyaman untuk kelangsungan kehidupan.
Dalam sambutannya Lurah Kedundang Abdul Rosyid menyampaikan bahwa dalam penilaian lomba ini juga ditentukan oleh ketaatan pembayaran pajak. Ketaatan membayar pajak menjadi penilaian penting karena pajak merupakan kewajiban dari warga desa, Ketatan membayar pajak ini akan mendukung suksesnya pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah untuk kemajuan bersama.
Merti desa juga merupakan upaya menjaga dinamika dimasyarakat melalui lomba bulu tangkis. Spirit berjuang dalam perlombaan akan melahirkan generasinyang pantang menyerah dalam menghadapi dinamika kehidupan. Selain untuk menampung secara konstruktif hobi olah raga yang berkembang dimasyarakat desa.
Merti desa akan melahirkan, menguatkan atau memunculkan sebuah spirit kebersamaan dalam menjaga desa. Semangat dituangkan dalam tema kegiatan "Saiyeg saeka praya hanggayuh rahahayuning desa" saiyeg saeko proyo bermakna bahwa dalam menjaga desa dibutuhkan semangat bersama untuk menuju kemakmuran desa. Merti desa adalah menjaga desa adalah menjaga semangat kebersamaan untuk mencapai “rahayuning” kemakmuran dan kesejahteraan desa/kalurahan.