Masuk Daftar

Mengenal Pawukon dalam Budaya Jawa

Berita Warga
Pawukon merupakan istilah yang digunakan sebagai patokan siklus alam. Pawukon juga disebut ilmu titen manusia yang diduga hadir secara turun temurun bahkan jauh sebelum era Hindu menyebar di tanah air. Disebutkan dalam Prasasti Lintakan (12 Juli 919 M) bahwa penghitungan pawukon telah digunakan sebagai dasar penyelenggaraan upacara ruwatan atau upacara penolak bala bagi raja.

Terdapat pranata mangsa atau tata waktu yang juga menggunakan pawukon sebagai patokan. pranata mangsa merupakan penentuan iklim atau cuaca. Lebih dari itu pawukon berkaitan juga dengan berbagai aktivitas daur hidup manusia dari kelahiran, pernikahan, pendirian rumah, perayaan hari-hari besar, upacara adat, upacara keagamaan, termasuk juga upacara kematian.

Perhitungan pawukon juga dipengaruhi dari perubahan rotasi yang terjadi dalam kurun waktu setiap 7 hari (sapta wara). Sapta wara dimulai dari hari redite (minggu) sampai hari tumpak (sabtu). Dikenal juga istilah pancawara sebagai penentu siklus pasaran yang terdiri dari pahing, pon, wage, kliwon, dan legi.

Tidak ada istilah tahun baru dalam penentuan waktu berdasarkan pawukon. Sebagai penentu permulaan siklus maka dikenal istilah Wuku Sinta dan akhir dari siklus dengan istilah Wuku Watugunung. Jumlah wuku terdiri dari 30 yaitu (1) Sinta, (2) Landep, (3) Wukir, (4) Kurantil, (5) Tolu, (6) Gumbreg, (7) Warigalit, (8) Warigagung, (9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) Galungan, (12) Kuningan, (13) Langkir, (14) Mondosio, (15) Julung Pujud, (16) Pahang, (17) Kuruwelut, (18) Mrakeh, (19) Tambir, (20) Medangkungan, (21) Maktal, (22) Wuye, (23) Menail, (24) Prangbakat, (25) Bala, (26) Wugu, (27) Wayang, (28) Klawu, (29) Dukut, (30) Watugunung. Satu rotasi wuku terdiri dari 210 hari (7 hari x 30 wuku).

Sudah sejak dahulu masyarakat nusantara mempercayai bahwa kehadiran manusia di bumi memiliki keterkaitan dengan berbagai unsur di alam semesta. Waktu kehadiran tiap manusia itulah masing-masing dipercaya dapat menentukan kecenderungan karakter, sifat, perilaku, perawakan seseorang yang dilihat melalui wuku kelahirannya.

Hadirnya pawukon dapat memberikan dampak positif pada manusia. Seseorang akan semakin memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Dengan begitu diharapkan manusia dapat bertindak dengan lebih berhati-hati dan bijaksana agar dapat terhindar dari kehancuran atau keburukan.

Penulis: Agnia Primasasti
Sumber: Humas Pemkot Surakarta

Topik Terkait

Lokasi Terkait

Dilihat 396 kali

Wisnu Artedjo

Sesepuh

0 Komentar

Komentar

Tagar Populer

Berita Warga Terkait

Berita Warga Terpopuler

Berita Warga Terbaru

Jelajahi Informasi Lebih Dalam

Berita Warga

Kabar berita terkini dari warga

Loker

Informasi lapangan pekerjaan

Acara

Undangan acara untuk warga

Laporan Warga

Masalah yang terjadi di lingkungan

Komunitas

Ruang komunitas AtmaGo

Lihat kabar pilihan, khusus dirangkum untukmu!

Masuk Daftar