Maaf Mama Bilang Goblok
Berita Warga

Bantul (20/01) Rutinitasku pagi hari adalah mengantar anak-anak ke sekolah. Jarak sekolah dengan rumah kami lumayan jauh. Sekitar 15km. Anak - anak bersekolah di Sanggar Anak Alam dan kami tinggal di Dusun Krekah Gilangharjo Pandak Bantul.
Jarak yang cukup jauh memberikan kami kesempatan untuk banyak ngobrol selama perjalanan dan banyak yang kami lihat. Setiap harinya ada saja yang kami bahas di jalan. Menyenangkan!
Nah pagi itu saat kami hendak beranjak dari lampu lalu lintas Klodran di jalan Bantul , dari jauh kami mendengar sirine ambulan. Ninuninuninu.. makin lama makin keras.
Otomatis saya menjalankan motor dengan lebih pelan dan berusaha menepi ke kiri. Memberikan ruang jalan yang lebih leluasa untuk ambulan itu harus dan wajib .
Tapi tidak dengan orang-orang di depan saya mereka masih saja memenuhi ruas jalan. Sedangkan suara ambulan semakin mendekat.
Sampai di depan SMP 2 Bantul malah banyak yang berhenti di tengah jalan karena akan menyeberang.
Otomatis saja saya bunyikan klakson saat saya lihat ambulan juga harus berhenti menunggu mereka memberi ruang .
Entah kenapa emosi saya tersulut dan saya berteriak " Wooy! Minggir kaliaaaaaan gob**k !"
Orang - orang memandang saya kaget. Saya gerakkan tangan saya sebagai isyarat [tolong menepi , beri jalan untuk ambulan] . Sebagian ada yang segera menepi. Tapi ada juga yang bebal .
Biasanya anak - anak akan protes dan memberikan sangsi kalau ada dari kami mengucapkan kata-kata kasar dan buruk. Hihihi tapi kali ini tidak. Jo memeluk saya lebih erat. Saya paham dia ingin menenangkan saya dengan pelukannya.
Sambil jalan lagi saya usap tangan Jo lalu bilang " Maafin mama ". Lantas terlintas banyak sekali peristiwa . Potongan - potongan kenangan bersama ambulan. Saya pernah sakit dan dinaikkan ambulan. Anak saya pernah kecelakaan dan karena ambulan bisa datang cepat dia bisa cepat tertolong.
Bagaimana dengan mereka ? Apakah harus naik ambulan dulu baru mau berempati ? Tidakkah mereka berpikir mungkin di dalam ambulan ada seseorang yang sedang meregang nyawa?
Atau, tidakkah terpikir mungkin di suatu tempat ada yang sedang menunggu ambulan menjemput dengan kondisi yang kritis dan membutuhkan pertolongan secepatnya.
Empati , logika dan penggunaan skala prioritas yang benar itu harus dilatih dan dipupuk. Kalau tidak mulai dari diri kita dan sekarang mau kapan lagi?
📸: Google
#empati
#responsif
#ririnsartono
#ambulance
#parenting
Jarak yang cukup jauh memberikan kami kesempatan untuk banyak ngobrol selama perjalanan dan banyak yang kami lihat. Setiap harinya ada saja yang kami bahas di jalan. Menyenangkan!
Nah pagi itu saat kami hendak beranjak dari lampu lalu lintas Klodran di jalan Bantul , dari jauh kami mendengar sirine ambulan. Ninuninuninu.. makin lama makin keras.
Otomatis saya menjalankan motor dengan lebih pelan dan berusaha menepi ke kiri. Memberikan ruang jalan yang lebih leluasa untuk ambulan itu harus dan wajib .
Tapi tidak dengan orang-orang di depan saya mereka masih saja memenuhi ruas jalan. Sedangkan suara ambulan semakin mendekat.
Sampai di depan SMP 2 Bantul malah banyak yang berhenti di tengah jalan karena akan menyeberang.
Otomatis saja saya bunyikan klakson saat saya lihat ambulan juga harus berhenti menunggu mereka memberi ruang .
Entah kenapa emosi saya tersulut dan saya berteriak " Wooy! Minggir kaliaaaaaan gob**k !"
Orang - orang memandang saya kaget. Saya gerakkan tangan saya sebagai isyarat [tolong menepi , beri jalan untuk ambulan] . Sebagian ada yang segera menepi. Tapi ada juga yang bebal .
Biasanya anak - anak akan protes dan memberikan sangsi kalau ada dari kami mengucapkan kata-kata kasar dan buruk. Hihihi tapi kali ini tidak. Jo memeluk saya lebih erat. Saya paham dia ingin menenangkan saya dengan pelukannya.
Sambil jalan lagi saya usap tangan Jo lalu bilang " Maafin mama ". Lantas terlintas banyak sekali peristiwa . Potongan - potongan kenangan bersama ambulan. Saya pernah sakit dan dinaikkan ambulan. Anak saya pernah kecelakaan dan karena ambulan bisa datang cepat dia bisa cepat tertolong.
Bagaimana dengan mereka ? Apakah harus naik ambulan dulu baru mau berempati ? Tidakkah mereka berpikir mungkin di dalam ambulan ada seseorang yang sedang meregang nyawa?
Atau, tidakkah terpikir mungkin di suatu tempat ada yang sedang menunggu ambulan menjemput dengan kondisi yang kritis dan membutuhkan pertolongan secepatnya.
Empati , logika dan penggunaan skala prioritas yang benar itu harus dilatih dan dipupuk. Kalau tidak mulai dari diri kita dan sekarang mau kapan lagi?
#empati
#responsif
#ririnsartono
#ambulance
#parenting