Ini Dia Mata Air Ajaib di Desa Mantang Loteng yang Diserbu Warga Lombok
Citizen News

DUSUN Jantuk, Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah geger. Bukan karena ada kasus kejahatan. Melainkan sumber mata air tiba-tiba menyembur dari teras rumah milik Agus.
Hampir sama viralnya dengan Bukit Menangis di bypass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Tepatnya di Desa Sukadana, Kecamatan Pujut. Kala itu, air tiba-tiba keluar dari bebatuan perbukitan yang dibelah, guna pembangunan jalan.
Warga sampai rela mengantre untuk sekadar mendapatkan air ajaib tersebut. Ada yang menggunakan gelas, plastik, botol hingga galon. Potret yang sama terjadi dikediaman Agus. Rumah yang berdekatan dengan Kepala Urusan Agama (KUA) Kopang Sahri tersebut, tidak pernah sepi.
Setiap hari ada saja warga yang datang. Mau pagi, siang, sore atau malam tetap ada saja yang rela menunggu giliran membawa pulang air ke rumah mereka masing. Tidak saja datang dari desa-desa tetangga di Kecamatan Batukliang, Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan Kopang atau Kecamatan Janapria.
Melainkan, beberapa desa di Lombok Barat dan Lombok Timur. “Sumber mata air ini tiba-tiba muncul, setelah ada satu ekor burung yang tumben saya lihat hinggap di pohon depan rumah,” cerita Agus.
Dia masih ingat betul, bahwa peristiwa itu terjadi malam Jumat sebulan yang lalu. Begitu burung terbang, tiba-tiba keramik teras depan rumah pecah. Lalu, menyemburkan air cukup deras. Padahal, di teras rumah tidak ada pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Praya, apalagi pipa air sumur, atau pipa-pipa lainnya
Daripada teras rumah banjir, Agus pun berinisiatif menutup sumber mata air tersebut. Itu menggunakan keramik, pasir dan semen. Sayangnya, kalah cepat dengan semburan air yang cukup deras. Lagi-lagi, dicoba menutup dengan batu dan bata. Namun, lagi-lagi keluar air.
Posisi sumber mata air tersebut, berada di samping utara pintu rumah atau di bawah jendela rumah. Sedangkan posisi rumah menghadap timur dengan halaman yang cukup luas. “Sampai sekarang saya biarkan saja,” tandasnya.
Ajaibnya, semburan mata air itu terkadang tiba-tiba menghilang. Kemudian tiba-tiba datang lagi. Lalu, tiba-tiba deras, kemudian tiba-tiba kecil. Begitu seterusnya.
Menurut Agus, kondisi seperti itu tergantung dari niat orang yang mengambil air. Jika niatnya buruk, maka sumber mata air pasti hilang. Sebaliknya, jika niatnya baik, maka air mengalir dengan deras. “Percaya atau tidak, kita kembalikan pada Allah SWT,” pesan Agus. (dedi/r5)
Sumber : Lombok Post
Hampir sama viralnya dengan Bukit Menangis di bypass Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Tepatnya di Desa Sukadana, Kecamatan Pujut. Kala itu, air tiba-tiba keluar dari bebatuan perbukitan yang dibelah, guna pembangunan jalan.
Warga sampai rela mengantre untuk sekadar mendapatkan air ajaib tersebut. Ada yang menggunakan gelas, plastik, botol hingga galon. Potret yang sama terjadi dikediaman Agus. Rumah yang berdekatan dengan Kepala Urusan Agama (KUA) Kopang Sahri tersebut, tidak pernah sepi.
Setiap hari ada saja warga yang datang. Mau pagi, siang, sore atau malam tetap ada saja yang rela menunggu giliran membawa pulang air ke rumah mereka masing. Tidak saja datang dari desa-desa tetangga di Kecamatan Batukliang, Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan Kopang atau Kecamatan Janapria.
Melainkan, beberapa desa di Lombok Barat dan Lombok Timur. “Sumber mata air ini tiba-tiba muncul, setelah ada satu ekor burung yang tumben saya lihat hinggap di pohon depan rumah,” cerita Agus.
Dia masih ingat betul, bahwa peristiwa itu terjadi malam Jumat sebulan yang lalu. Begitu burung terbang, tiba-tiba keramik teras depan rumah pecah. Lalu, menyemburkan air cukup deras. Padahal, di teras rumah tidak ada pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Praya, apalagi pipa air sumur, atau pipa-pipa lainnya
Daripada teras rumah banjir, Agus pun berinisiatif menutup sumber mata air tersebut. Itu menggunakan keramik, pasir dan semen. Sayangnya, kalah cepat dengan semburan air yang cukup deras. Lagi-lagi, dicoba menutup dengan batu dan bata. Namun, lagi-lagi keluar air.
Posisi sumber mata air tersebut, berada di samping utara pintu rumah atau di bawah jendela rumah. Sedangkan posisi rumah menghadap timur dengan halaman yang cukup luas. “Sampai sekarang saya biarkan saja,” tandasnya.
Ajaibnya, semburan mata air itu terkadang tiba-tiba menghilang. Kemudian tiba-tiba datang lagi. Lalu, tiba-tiba deras, kemudian tiba-tiba kecil. Begitu seterusnya.
Menurut Agus, kondisi seperti itu tergantung dari niat orang yang mengambil air. Jika niatnya buruk, maka sumber mata air pasti hilang. Sebaliknya, jika niatnya baik, maka air mengalir dengan deras. “Percaya atau tidak, kita kembalikan pada Allah SWT,” pesan Agus. (dedi/r5)
Sumber : Lombok Post