Filsafat Hindu: Mantra Sembahyang saat Tangkil ke Pura Dalem, Desa, dan Puseh
Berita Warga

Jika kita perhatikan pada slide gambar di atas, maka masing-masing mantra untuk Pura Kahyangan Tiga yaitu Desa, Puseh, dan Dalem — ketiganya ditujukan kepada Śiva (Sang Hyang Widhi) karena Hindu Bali berpaham Śiva Siddhānta non-dualisme. Mantra diatas digunakan pada kramaning sembah ke-3.
• Apakah boleh menggunakan bahasa Indonesia saja?
Mantra-mantra Sūktam Veda dan Tantrik (Āgama) adalah wujud Śiva Sendiri, itu yang membedakan "pūjā" dengan berdoa. Namun tentu saja tidak ada yang melarang jika menggunakan bahasa formal sehari-hari. Tuhan Maheśvara mengetahui maksud di balik suara tidak jelas, dengan berbagai macam bahasa, atau bahkan tanpa komunikasi verbal sekalipun — kita hanya perlu berserah diri secara total kehadapan-Nya saja (Yajurveda 39.4-9).
Berbicara tentang konsep Kahyangan Tiga, Śiva Vedānta menyatakan tidak ada sesuatu yang terpisah dari Sadāśiva, jadi menganggap Brahmā-Viṣṇu-Rudra berbeda adalah salah. Namun Lingga Purāṇa juga menggambarkan bagaimana Brahmā-Viṣṇu-Rudra seperti kunang-kunang di hadapan Sadāśiva yang perkasa seperti matahari. Jadi, Trimūrti adalah sekian dari kekuatan Śāṃbhavī Śakti milik Brahman Yang Agung, Śiva.
Dalam Īśvara Gītā, Śiva bersabda:
(4.21).—"Salah satu kekuatan-Ku yang melekat pada semua dan identik dengan-Ku, telah mengambil bentuk Brahmā dan menciptakan dunia ini yang penuh dengan keragaman dan perbedaan."
(4.22).—"Kekuatan besar-Ku yang lain menjadi Nārāyaṇa, yang tak terbatas, penguasa segala, Dia adalah Viṣṇu yang tersebar keseluruh semesta, yang menopang alam semesta."
(4.23).—"Śakti Agung ketiga, mengambil tugas memusnahkan seluruh alam semesta. Dia adalah wujud-Ku yang disebut Tāmasi dan Kāla. Dia hadir dalam bentuk Rudra."
GURUR BRAHMAA GURUR VISHNU
GURUR DEVO MAHESHVARAH
GURUH SAAKSHAAT PARABRAHMA
TASMAI SHREE GURAVE NAMAH
Sumber: Filsafat Hindu
Hubungi WA kami (no WA: 081239358383) untuk buku-buku Filasafat Hindu, untuk katalog selengkapnya bisa kunjungi: https://www.instagram.com/filsafat_hindu/
• Apakah boleh menggunakan bahasa Indonesia saja?
Mantra-mantra Sūktam Veda dan Tantrik (Āgama) adalah wujud Śiva Sendiri, itu yang membedakan "pūjā" dengan berdoa. Namun tentu saja tidak ada yang melarang jika menggunakan bahasa formal sehari-hari. Tuhan Maheśvara mengetahui maksud di balik suara tidak jelas, dengan berbagai macam bahasa, atau bahkan tanpa komunikasi verbal sekalipun — kita hanya perlu berserah diri secara total kehadapan-Nya saja (Yajurveda 39.4-9).
Berbicara tentang konsep Kahyangan Tiga, Śiva Vedānta menyatakan tidak ada sesuatu yang terpisah dari Sadāśiva, jadi menganggap Brahmā-Viṣṇu-Rudra berbeda adalah salah. Namun Lingga Purāṇa juga menggambarkan bagaimana Brahmā-Viṣṇu-Rudra seperti kunang-kunang di hadapan Sadāśiva yang perkasa seperti matahari. Jadi, Trimūrti adalah sekian dari kekuatan Śāṃbhavī Śakti milik Brahman Yang Agung, Śiva.
Dalam Īśvara Gītā, Śiva bersabda:
(4.21).—"Salah satu kekuatan-Ku yang melekat pada semua dan identik dengan-Ku, telah mengambil bentuk Brahmā dan menciptakan dunia ini yang penuh dengan keragaman dan perbedaan."
(4.22).—"Kekuatan besar-Ku yang lain menjadi Nārāyaṇa, yang tak terbatas, penguasa segala, Dia adalah Viṣṇu yang tersebar keseluruh semesta, yang menopang alam semesta."
(4.23).—"Śakti Agung ketiga, mengambil tugas memusnahkan seluruh alam semesta. Dia adalah wujud-Ku yang disebut Tāmasi dan Kāla. Dia hadir dalam bentuk Rudra."
GURUR BRAHMAA GURUR VISHNU
GURUR DEVO MAHESHVARAH
GURUH SAAKSHAAT PARABRAHMA
TASMAI SHREE GURAVE NAMAH
Sumber: Filsafat Hindu
Hubungi WA kami (no WA: 081239358383) untuk buku-buku Filasafat Hindu, untuk katalog selengkapnya bisa kunjungi: https://www.instagram.com/filsafat_hindu/