Cara Mengatasi Hidung Tidak Bisa Mencium Bau Atau Mengalami Anosmia Pada Pasien Covid-19
Citizen News

Gejala #Covid-19 yang paling banyak dikeluhkan adalah hidung tidak bisa mencium bau. Penderitanya mungkin mengalami #anosmia. Kondisi tersebut bisa dialami beberapa minggu atau bulan. Namun, dalam beberapa kasus terjadi secara permanen.
Anosmia adalah kondisi hilangnya atau berkurangnya kemampuan indra penciuman. Gejalanya biasanya seseorang tidak bisa mencium bau dan merasakan makanan. Sehingga tidak dapat mencium bau lainnya (seperti bau asap dan gas) dan hilangnya nafsu makan.
Tingkat Kehilangan penciuman pada COVID-19 sangat bervariasi tergantung pada karakteristik/ demografi kelompok. Kondisi tidak bisa mencium bau diperkirakan terjadi pada 20-50% dari semua pasien di seluruh dunia.
๐๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ป๐ด ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ ๐๐ฎ๐ ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ป๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ผ๐ฟ ๐๐๐ฎ๐น ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ฟ ๐๐ผ๐๐ถ๐ฑ-๐ญ๐ต
Dikutip dari https://hms.harvard.edu/ kehilangan penciuman sementara menjadi gejala indikator awal terpapar COVID-19. Disamping itu, penderita akan merasakan demam dan batuk. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ahli saraf di Harvard Medical School mengidentifikasi jenis sel penciuman di rongga hidung bagian atas ternyata paling rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.
Jadi ada 3 gejala utama COVID-19 antara lain :
1. Demam,
2. Batuk terus menerus baru
3. Kehilangan bau dan kehilangan rasa
Penelitian lain menunjukkan bahwa kehilangan bau dan rasa pada penderita COVID-19 lebih sering terjadi orang berusia muda.
Kehilangan penciuman atau rasa pada sebagian besar pasien yang terinfeksi cenderung bersifat jangka pendek (biasanya kurang dari 2 minggu) dan memiliki pemulihan yang cepat (dalam 10 hari). Meski begitu, pada beberapa pasien dapat bertahan lebih lama terutama bagi penderita dengan COVID yang lama.
Berbeda dengan flu yang dikaitkan dengan hidung tersumbat (disebabkan oleh penumpukan lendir), anosmia diduga berhubungan langsung dengan infeksi SARS-CoV-2 dalam epitel hidung dan neuron penciuman.
Oleh karena itu, orang-orang yang tiba-tiba kehilangan penciuman sebagai gejala positif COVID-19. Lalu sebaiknya segera melakukan tes aliran PCR untuk mengonfirmasi apakah positif atau tidak. Kemudian, segera melakukan isolasi diri.
๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ป๐ด ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ ๐๐ฎ๐
Belum ada tips standar untuk menyembuhkan masalah penciuman akibat terpapar Covid-19. Namun bisa dilakukan latihan penciuman pada pasiennya untuk merangsang indra penciumannya. Misalnya, olahraga penciuman setiap hari dengan menggunakan aroma yang berbeda seperti aroma lemon, minyak atsiri, kopi, dan lain-lain.
Tujuannya untuk merangsang indra penciuman pasien. Namun efektivitasnya masih tergantung pada tingkat keparahan anosmia yang dialami pasien Covid-19.
Gejala masalah penciuman dinilai berbahaya karena mempengaruhi indera penciuman manusia. Oleh karena itu,penderita tidak boleh meremehkan gejala yang terjadi. Apabila anosmia terjadi dalam jangka panjang, maka mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Karena seseorang tidak bisa mencium dan akan memperngaruhi merasakan nafsu makan.
Paparan bau yang dilakukan secara berulang bisa meningkatkan kapasitas neurogeneratif sel khusus di daerah hidung. Latihan penciuman (epitel penciuman) dapat menyembuhkan saraf penciuman yang rusak. Setidaknya latihan penciuman aroma dilakukan dua kali sehari dalam waktu 30 detik pada empat aroma berbeda.
Sumber :
https://www.sabumiku.com/kesehatan/cara-mengatasi-hidung-tidak-bisa-mencium-bau-anosmia
Anosmia adalah kondisi hilangnya atau berkurangnya kemampuan indra penciuman. Gejalanya biasanya seseorang tidak bisa mencium bau dan merasakan makanan. Sehingga tidak dapat mencium bau lainnya (seperti bau asap dan gas) dan hilangnya nafsu makan.
Tingkat Kehilangan penciuman pada COVID-19 sangat bervariasi tergantung pada karakteristik/ demografi kelompok. Kondisi tidak bisa mencium bau diperkirakan terjadi pada 20-50% dari semua pasien di seluruh dunia.
๐๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ป๐ด ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ ๐๐ฎ๐ ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ป๐ฑ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ผ๐ฟ ๐๐๐ฎ๐น ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ฟ ๐๐ผ๐๐ถ๐ฑ-๐ญ๐ต
Dikutip dari https://hms.harvard.edu/ kehilangan penciuman sementara menjadi gejala indikator awal terpapar COVID-19. Disamping itu, penderita akan merasakan demam dan batuk. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ahli saraf di Harvard Medical School mengidentifikasi jenis sel penciuman di rongga hidung bagian atas ternyata paling rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.
Jadi ada 3 gejala utama COVID-19 antara lain :
1. Demam,
2. Batuk terus menerus baru
3. Kehilangan bau dan kehilangan rasa
Penelitian lain menunjukkan bahwa kehilangan bau dan rasa pada penderita COVID-19 lebih sering terjadi orang berusia muda.
Kehilangan penciuman atau rasa pada sebagian besar pasien yang terinfeksi cenderung bersifat jangka pendek (biasanya kurang dari 2 minggu) dan memiliki pemulihan yang cepat (dalam 10 hari). Meski begitu, pada beberapa pasien dapat bertahan lebih lama terutama bagi penderita dengan COVID yang lama.
Berbeda dengan flu yang dikaitkan dengan hidung tersumbat (disebabkan oleh penumpukan lendir), anosmia diduga berhubungan langsung dengan infeksi SARS-CoV-2 dalam epitel hidung dan neuron penciuman.
Oleh karena itu, orang-orang yang tiba-tiba kehilangan penciuman sebagai gejala positif COVID-19. Lalu sebaiknya segera melakukan tes aliran PCR untuk mengonfirmasi apakah positif atau tidak. Kemudian, segera melakukan isolasi diri.
๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ถ๐ฑ๐๐ป๐ด ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ๐๐บ ๐๐ฎ๐
Belum ada tips standar untuk menyembuhkan masalah penciuman akibat terpapar Covid-19. Namun bisa dilakukan latihan penciuman pada pasiennya untuk merangsang indra penciumannya. Misalnya, olahraga penciuman setiap hari dengan menggunakan aroma yang berbeda seperti aroma lemon, minyak atsiri, kopi, dan lain-lain.
Tujuannya untuk merangsang indra penciuman pasien. Namun efektivitasnya masih tergantung pada tingkat keparahan anosmia yang dialami pasien Covid-19.
Gejala masalah penciuman dinilai berbahaya karena mempengaruhi indera penciuman manusia. Oleh karena itu,penderita tidak boleh meremehkan gejala yang terjadi. Apabila anosmia terjadi dalam jangka panjang, maka mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Karena seseorang tidak bisa mencium dan akan memperngaruhi merasakan nafsu makan.
Paparan bau yang dilakukan secara berulang bisa meningkatkan kapasitas neurogeneratif sel khusus di daerah hidung. Latihan penciuman (epitel penciuman) dapat menyembuhkan saraf penciuman yang rusak. Setidaknya latihan penciuman aroma dilakukan dua kali sehari dalam waktu 30 detik pada empat aroma berbeda.
Sumber :
https://www.sabumiku.com/kesehatan/cara-mengatasi-hidung-tidak-bisa-mencium-bau-anosmia