Bupati dan Suami Ikuti Kirab Budaya Khaul Pangeran Angkawijaya Losari
Citizen News

Memperingati Khaul Pangeran Angkawijaya atau Panembahan Losari, Brebes Jawa Tengah dilakukan Kirab Budaya.
Ribuan masyarakat dari Jawa Tengah dan Jawa Barat berjubel memadati jalan yang dilalui rute kirab. Bupati Brebes Idza Priyanti melakukan kirab dengan menaiki Kereta Kencana Singa Barong yang diciptakan Panembahan Losari, Senin (6/8/2019).
Kasultanan Kasepuhan Cirebon Jawa Barat Pangeran Ngurasa Suryanata sengaja mendatangkan Kereta Kencana Singa Barong dari Cirebon untuk dinaiki Bupati Brebes bersama suami Kompol H Warsidin.
“Kami mohon ijin untuk menaiki Kereta Kencana Singa Barong untuk kirab budaya ini,” ijin Bupati Brebes kepada Kasultanan Kasepuhan Cirebon Pangeran Ngurasa Suryanata sebelum menaiki kereta.
Dengan busana adat jawa berwarna merah menyala, Idza Priyanti sesekali melambaikan tangan, menebar senyum dan menyebar beras kuning ke arah pengunjung. Terang saja, ketika beras kuning disebar yang bercampur dengan uang dan permen menjadi rebutan anak-anak dan juga orang dewasa.
Ribuan warga yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat antusias berjajar di sepanjang jalan menyaksikan jalannya Kirab Budaya tersebut.
Kirab, di mulai dari Makam Penembahan Losari di Pesarean desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Brebes Jawa Tengah hingga menyusuri jalan Pantura Losari sampai ke Losari Cirebon Jawa Barat.
Dalam sambutannya Idza meminta tetap mempertahankan budaya yang ada setiap tahun karena Losari Brebes masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Losari, Cirebon.
”Acara ini bisa menjadi ikon pariwisata Brebes yang bisa mewarnai dunia pariwasata dalam negeri maupun luar negeri. Yang tentunya harus dikemas dan lestarikan budaya kirab ini dengan baik,” jelas Idza.
Senada dengan Bupati, Kasultanan Kasepuhan Cirebon Pangeran Ngurasa Suryanata merasa berterima kasih karena telah tercipta satu tradisi yang digotong dua wilayah perbatasan untuk dilestarikan bersama.
“Pesan saya, kirab seperti ini jangan sampai dianggap bid’ah. Ini justru syiar agama karena Pangeran Angka Wijaya keturunan Wali yang antara lain menyebarkan agama juga lewat budaya,” tegasnya.
Makam Pangeran Angkawijaya di Desa Losari Kecamatan Losari Brebes
Asal-usul Pangeran Angkawijaya
Berdasarkan serat keraton Kasepuhan Cirebon Jawa Barat, Panembahan Losari, atau Pangeran Angkawijaya yang makamnya berada di pemakaman Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, adalah merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Panembahan Losari adalah anak dari perkawinan pasangan Ratu Wanawati (Cirebon) dengan anak keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Carbon atau yang sekarang dikenal Cirebon.
Panembahan Losari, diyakini selain sebagai ahli agama, juga mempunyai keahlian lain di bidang seni.
Konon motif batik corak Mega Mendung, corak Gringsing adalah hasil dari buah kreasinya. Hasil kreasi lainnya menciptakan Kereta Kencana yang kini tersimpan di Kasultanan Kasepuhan Cirebon.
”Pangeran Angkawijaya merupakan keturunan kasunan Cirebon, yang menyingkir ke Desa Losari dengan tujuan mengembangkan bakatnya dibidang kreasi kesenian,” pungkasnya.
Jejak sejarah Islam terlihat jelas di Kompleks Makam Pulosaren di wilayah Losari Lor (utara). Gerbang kompleks makam ini menggunakan arsitektur khas Keraton Cirebon.
Di dalam kompleks makam ini juga terdapat kuburan tokoh penyebar Islam di Losari, Pangeran Angka Wijaya atau Panembahan Losari. Masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Pulosaren.
Pangeran Angka Wijaya merupakan salah seorang cucu Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Ia mendapatkan tugas untuk menyebarluaskan dakwah dan ajaran Islam di wilayah Cirebon bagian timur, yaitu Losari. Jejak dakwah yang dilakukan oleh Pangeran Angka Wijaya menurut catatan sejarah dilakukan pada abad ke-16.
Setiap tahun, di Makam Pulosaren diselenggarakan kegiatan Haul Pangeran Angka Wijaya yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Brebes, pihak Keraton Kasepuhan Cirebon, dan ribuan masyarakat dengan mendatangkan kereta kencana.
Kendaraan khas yang dahulu digunakan oleh pihak kerajaan ini sengaja didatangkan langsung oleh Keraton Kasepuhan Cirebon untuk digunakan dalam acara Kirab Panembahan Losari.
Makam Pangeran Angka Wijaya juga selalu ramai peziarah terutama ketika penyelenggaraan haul terus diperkuat oleh para pemangku kebijakan, dengan tujuan agar masyarakat tidak lupa dengan akar sejarahnya.
Utamanya sejarah penyebaran Islam di Losari yang dinilai menjadi titik sentral meluasnya Islam di seluruh Kabupaten Brebes.
Makam Pulosaren sendiri menunjukkan bahwa pengaruh Islam dan karakter Kerajaan Cirebon cukup kuat.
Turut serta kirab antara lain Wakil Bupati Brebes Narjo SH beserta Istri Sri Legiastuti Narjo, grup kesenian dari berbagai desa di Losari Brebes dan Cirebon. Tampak ikut menyaksikan para anggota DPRD Brebes, para Kepala OPD, tokoh masyarakat, tokoh Agama dan undangan lainnya.
Brebesnews.co
Ribuan masyarakat dari Jawa Tengah dan Jawa Barat berjubel memadati jalan yang dilalui rute kirab. Bupati Brebes Idza Priyanti melakukan kirab dengan menaiki Kereta Kencana Singa Barong yang diciptakan Panembahan Losari, Senin (6/8/2019).
Kasultanan Kasepuhan Cirebon Jawa Barat Pangeran Ngurasa Suryanata sengaja mendatangkan Kereta Kencana Singa Barong dari Cirebon untuk dinaiki Bupati Brebes bersama suami Kompol H Warsidin.
“Kami mohon ijin untuk menaiki Kereta Kencana Singa Barong untuk kirab budaya ini,” ijin Bupati Brebes kepada Kasultanan Kasepuhan Cirebon Pangeran Ngurasa Suryanata sebelum menaiki kereta.
Dengan busana adat jawa berwarna merah menyala, Idza Priyanti sesekali melambaikan tangan, menebar senyum dan menyebar beras kuning ke arah pengunjung. Terang saja, ketika beras kuning disebar yang bercampur dengan uang dan permen menjadi rebutan anak-anak dan juga orang dewasa.
Ribuan warga yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat antusias berjajar di sepanjang jalan menyaksikan jalannya Kirab Budaya tersebut.
Kirab, di mulai dari Makam Penembahan Losari di Pesarean desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Brebes Jawa Tengah hingga menyusuri jalan Pantura Losari sampai ke Losari Cirebon Jawa Barat.
Dalam sambutannya Idza meminta tetap mempertahankan budaya yang ada setiap tahun karena Losari Brebes masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Losari, Cirebon.
”Acara ini bisa menjadi ikon pariwisata Brebes yang bisa mewarnai dunia pariwasata dalam negeri maupun luar negeri. Yang tentunya harus dikemas dan lestarikan budaya kirab ini dengan baik,” jelas Idza.
Senada dengan Bupati, Kasultanan Kasepuhan Cirebon Pangeran Ngurasa Suryanata merasa berterima kasih karena telah tercipta satu tradisi yang digotong dua wilayah perbatasan untuk dilestarikan bersama.
“Pesan saya, kirab seperti ini jangan sampai dianggap bid’ah. Ini justru syiar agama karena Pangeran Angka Wijaya keturunan Wali yang antara lain menyebarkan agama juga lewat budaya,” tegasnya.
Makam Pangeran Angkawijaya di Desa Losari Kecamatan Losari Brebes
Asal-usul Pangeran Angkawijaya
Berdasarkan serat keraton Kasepuhan Cirebon Jawa Barat, Panembahan Losari, atau Pangeran Angkawijaya yang makamnya berada di pemakaman Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, adalah merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Panembahan Losari adalah anak dari perkawinan pasangan Ratu Wanawati (Cirebon) dengan anak keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Carbon atau yang sekarang dikenal Cirebon.
Panembahan Losari, diyakini selain sebagai ahli agama, juga mempunyai keahlian lain di bidang seni.
Konon motif batik corak Mega Mendung, corak Gringsing adalah hasil dari buah kreasinya. Hasil kreasi lainnya menciptakan Kereta Kencana yang kini tersimpan di Kasultanan Kasepuhan Cirebon.
”Pangeran Angkawijaya merupakan keturunan kasunan Cirebon, yang menyingkir ke Desa Losari dengan tujuan mengembangkan bakatnya dibidang kreasi kesenian,” pungkasnya.
Jejak sejarah Islam terlihat jelas di Kompleks Makam Pulosaren di wilayah Losari Lor (utara). Gerbang kompleks makam ini menggunakan arsitektur khas Keraton Cirebon.
Di dalam kompleks makam ini juga terdapat kuburan tokoh penyebar Islam di Losari, Pangeran Angka Wijaya atau Panembahan Losari. Masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Pulosaren.
Pangeran Angka Wijaya merupakan salah seorang cucu Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Ia mendapatkan tugas untuk menyebarluaskan dakwah dan ajaran Islam di wilayah Cirebon bagian timur, yaitu Losari. Jejak dakwah yang dilakukan oleh Pangeran Angka Wijaya menurut catatan sejarah dilakukan pada abad ke-16.
Setiap tahun, di Makam Pulosaren diselenggarakan kegiatan Haul Pangeran Angka Wijaya yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Brebes, pihak Keraton Kasepuhan Cirebon, dan ribuan masyarakat dengan mendatangkan kereta kencana.
Kendaraan khas yang dahulu digunakan oleh pihak kerajaan ini sengaja didatangkan langsung oleh Keraton Kasepuhan Cirebon untuk digunakan dalam acara Kirab Panembahan Losari.
Makam Pangeran Angka Wijaya juga selalu ramai peziarah terutama ketika penyelenggaraan haul terus diperkuat oleh para pemangku kebijakan, dengan tujuan agar masyarakat tidak lupa dengan akar sejarahnya.
Utamanya sejarah penyebaran Islam di Losari yang dinilai menjadi titik sentral meluasnya Islam di seluruh Kabupaten Brebes.
Makam Pulosaren sendiri menunjukkan bahwa pengaruh Islam dan karakter Kerajaan Cirebon cukup kuat.
Turut serta kirab antara lain Wakil Bupati Brebes Narjo SH beserta Istri Sri Legiastuti Narjo, grup kesenian dari berbagai desa di Losari Brebes dan Cirebon. Tampak ikut menyaksikan para anggota DPRD Brebes, para Kepala OPD, tokoh masyarakat, tokoh Agama dan undangan lainnya.
Brebesnews.co