Budaya Nusantara: Seni Pertunjukan Reog Wayang
Citizen News
Sejarah
Menurut sejarahnya, Ada lima versi cerita popular yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog. Namun yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki ageng Kutu, seorang abdi Kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa di abad ke-15. Ki ageng Kutu murka terhadap pemerintahan Bhre Kertabhumi yang korup dan pengaruh kuat istri raja yang berasal dari Tiongkok.
Ia melihat kekausaan Majapahit akan berakhir. Reog wayang mulai hadir di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1930-an, kemudian dalam sumber tulisan di Kulonprogo disebutkan muncul reog di daerah Galur pada tahun 1950-an dan kemudian mulai bermunculan reog wayang di Bantul tahun 1965 disusul dengan lahirnya banyak kelompok-kelompok reog wayang yang tumbuh di Bantul.
Nilai dan Fungsi
Makna filosofis kesenian reog wayang dapat dilihat dari berbagai aspek, yakni makna sebagai hiburan, tuntunan, sebagai identitas sosial, makna persatuan, religi, pelapisan sosial, makna kebudayaan (mewarisi budaya leluhur). Nilai dan makna bagi pelaku antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan, makna hiburan, makna persatuan, makna penyaluran bakat, status sosial, makna hubungan sosial, dan pelestarian budaya.
Reog Wayang berkembang di Bantul dengan fungsi kultural yang hidup dalam kehidupan sehari-hari mereka seperti acara dusun dan berbagai acara hajatan dan pergelaran kesenian lainnya.
SUmber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)
Menurut sejarahnya, Ada lima versi cerita popular yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog. Namun yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki ageng Kutu, seorang abdi Kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa di abad ke-15. Ki ageng Kutu murka terhadap pemerintahan Bhre Kertabhumi yang korup dan pengaruh kuat istri raja yang berasal dari Tiongkok.
Ia melihat kekausaan Majapahit akan berakhir. Reog wayang mulai hadir di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1930-an, kemudian dalam sumber tulisan di Kulonprogo disebutkan muncul reog di daerah Galur pada tahun 1950-an dan kemudian mulai bermunculan reog wayang di Bantul tahun 1965 disusul dengan lahirnya banyak kelompok-kelompok reog wayang yang tumbuh di Bantul.
Nilai dan Fungsi
Makna filosofis kesenian reog wayang dapat dilihat dari berbagai aspek, yakni makna sebagai hiburan, tuntunan, sebagai identitas sosial, makna persatuan, religi, pelapisan sosial, makna kebudayaan (mewarisi budaya leluhur). Nilai dan makna bagi pelaku antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan, makna hiburan, makna persatuan, makna penyaluran bakat, status sosial, makna hubungan sosial, dan pelestarian budaya.
Reog Wayang berkembang di Bantul dengan fungsi kultural yang hidup dalam kehidupan sehari-hari mereka seperti acara dusun dan berbagai acara hajatan dan pergelaran kesenian lainnya.
SUmber: Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta (wbtbdiy.com)